Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2012

Menelusuri dan melacak lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme agama. Sebuah gagasan Protestanistik yang kini digandrungi sebagian kaum Muslimin

Proses liberalisasi sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan dunia abad modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan liberalisasi atau globalisasi (baca: penjajahan model baru) ekonomi. Wilayah agama pun, pada gilirannya, dipaksa harus membuka diri untuk diliberalisasikan.

Sejak era reformasi gereja abad ke-15, wilayah yurisdiksi agama telah direduksi, dimarjinalkan, dan didomestikasikan sedemikian rupa. Hanya boleh beroperasi di sisi kehidupan manusia yang paling privat. Dan saat ini, agama tetap masih dianggap tidak cukup kondusif (atau bahkan mengganggu) bagi terciptanya tatanan dunia baru yang harmoni, demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM seperti toleransi, kebebasan, persamaan, dan pluralisme. Seakan-akan semua agama adalah musuh demokrasi, kemanusiaan, dan HAM.

Oleh karenanya agama harus mendekonstruksikan-diri (atau didekonstruksikan secara paksa) agar, menurut bahasa kaum liberal, merdeka dan bebas dari kungkungan teks-teks dan tradisi yang jumud serta sudah tak sesuai lagi dengan semangat zaman.

Proses liberalisasi sosial politik di Barat telah melahirkan tatanan politik yang pluralistik yang dikenal dengan "pluralisme politik". Liberalisasi agama harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan sederajat, "sama benarnya dan sama relatifnya". Orang menyebutnya sebagai "pluralisme agama".

Pluralisme, Gagasan Protestanistik Paham liberalisme pada awalnya muncul sebagai mazhab sosial politis. Oleh karenanya, wacana pluralisme yang lahir dari rahimnya, termasuk gagasan pluralisme agama, juga lebih kental dengan nuansa dan aroma politik. Maka tidak aneh jika gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir dalam kemasan pluralisme politik (political pluralism), yang merupakan produk dari liberalisme politik (political liberalism).

Jelas, faham liberalisme tidak lebih merupakan respons politis terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan keragaman sekte, kelompok, dan mazhab. Namun kondisi pluralistik semacan ini masih terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk sekian lama, baru kemudian pada abad kedua puluh berkembang hingga mencakup komunitas-komunitas lain di dunia.

Saat itu, hembusan angin pluralisme yang mewarnai pemikiran Eropa khususnya, dan Barat secara umum, rupanya belum mengakar kuat dalam kultur masyarakat. Beberapa sekte Kristen masih mengalami perlakuan dikriminatif dari gereja. Hal itu misalnya dialami sekte Mormon, yang tetap tidak diakui oleh gereja karena dianggap gerakan heterodoks. Diskriminasi ini berlangsung sampai akhir abad kesembilan belas, ketika muncul protes keras dari Presiden Amerika Serikat, Grover Cleveland (1837-1908).

Ada pula doktrin "di luar gereja tidak ada keselamatan". Ini tetap dipegang teguh oleh Gereja Katolik hingga dilangsungkannya Konsili Vatikan II pada awal tahun 1960-an, yang mendeklarasikan doktrin keselamatan umum, bahkan bagi agama-agama selain Kristen.

Jadi, gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah salah satu elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19. Gerakan ini kemudian dikenal dengan Liberal Protestantism. Pelopornya adalah Friedrich Schleiermacher.

Memasuki abad ke-20, gagasan pluralisme agama semakin kokoh dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Muncul tokoh gigih, seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Dalam sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen di antara Agama-agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama secara argumentatif. Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki kebenaran mutlak. Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal.

Ada lagi William E Hocking. Gagasannya ditulis dalam buku Re-thinking Mission (1932) dan Living Religions and A World Faith. Ia tanpa ragu-ragu memprediksi akan munculnya model keyakinan atau agama universal baru yang selaras dengan konsep pemerintahan global.

Gagasan serupa datang dari sejarawan Inggris ternama, Arnold Toynbee (1889-1975), dalam karyanya An Historian's Approach to Religion (1956) dan Cristianity and World Religions (1957). Juga teolog dan sejarawan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith. Dalam buku Towards A World Theology (1981), Smith mencoba meyakinkan perlunya menciptakan konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat secara damai dan harmonis. Nampaknya karya tersebut memuat saripati pergolakan pemikiran dan penelitian Smith, dari karya-karya sebelumnya The Meaning and End of Religion (1962) dan Questions of Religious Truth (1967).

Dua dekade terakhir abad ke-20, gagasan pluralisme agama telah mencapai fase kematangan. Kemudian menjadi sebuah wacana pemikiran tersendiri pada dataran teologi dan filsafat agama modern. Fenomena sosial politik juga mengetengahkan realitas baru kehidupan antar agama yang lebih nampak sebagai penjabaran, kalau bukan dampak dari (atau bahkan suatu proses sinergi) gagasan pluralisme agama ini.

Dalam kerangka teoritis, pluralisme agama pada masa ini telah dimatangkan oleh beberapa teolog dan filosof agama modern. Konsepsinya lebih lihai, agar dapat diterima oleh kalangan antar agama. John Hick telah merekonstruksi landasan-landasan teoritis pluralisme agama sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah teori yang baku dan populer.

Hick menuangkan pemikirannya dalam buku An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent. Buku ini diangkat dari serial kuliahnya pada tahun 1986-1987, yang merupakan rangkuman dari karya-karya sebelumnya.

Ternyata, fenomena yang murni Protestanistik atau terjadi dalam kerangka gerakan reformasi Protestan secara khusus ini, masih mendominasi pemikiran orang-orang Protestan hingga akhir abad ke-19. Sedangkan Kristen Katolik cenderung tidak menerima gagasan pluralisme agama, dan tetap berpegang teguh pada doktrin "di luar gereja tidak ada keselamatan", hingga akhirnya Konsili Vatikan II berlangsung.


Wabah Pluralisme dalam Islam

Dalam wacana pemikiran Islam, wacana pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam.

Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada masa-masa pasca Perang Dunia II. Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat.

Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad).

Karya-karya mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of Religions, sangat sarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama.

Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi'ah moderat, adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam tradisional". Suatu "prestasi" yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama besar seperti Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel.

Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al-khalidah, atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi.

Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada sombol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya sebagai basis dari bangunan pemikirannya?

Saat ini wacana pluralisme agama modern muncul dengan berbagai trend dan bentuknya. Ini menggambarkan sebuah fakta secara telanjang bahwa betapa dominan dan hegemoniknya Barat, baik dari segi politik, ekonomi, peradaban, maupun kultur. Sebuah fakta yang untuk menjamin eksistensi dan kelestariannya, meniscayakan adanya semacam ?legitimasi relijius?, atau apa yang disebut Peter L Berger sebagai sacred canopy (tirai suci). Dan itu harus sejalan dengan logika kemanusiaan modern yang berlandaskan pada asas toleransi dan kebebasan, atau lebih tepatnya, liberalisme.

Obsesi Barat ini kentara sekali dan sulit untuk ditutup-tutupi, sebagaimana nampak dari upaya-upaya serius yang dilakukannya untuk mensosialisasikan gagasan ini. Bahkan mereka tak segan melakukan tekanan politik, ekonomi, maupun militer terhadap negara-negara lain yang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Semua harus mau bernaung di bawah jargon Tatanan Dunia Baru yang dicanangkan Amerika Serikat pada awal sembilan puluhan dari abad yang lalu.* (Hidayatullah/Bersambung)

Ditulis Anis Malik Toha, Phd. (Penulis, Dosen Ilmu Perbandingan Agama pada International Islamic University, Malaysia)
Adian Husaini
Kritik & tanggapan atas tulisan Ahmad Fuad Fanani JIMM: “Menghindari Kejumudan Penafsiran Islam”.
Dunia intelektual Indonesia, sejak beberapa waktu lalu, dikenalkan dengan munculnya sebuah kelompok bernama “Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah”, disingkat JIMM. Adalah sesuatu yang menggembirakan, bahwa di kalangan organisasi Islam, muncul semangat ilmiah, semangat untuk mengkaji ilmu dan menyebarkan ilmu ke tengah masyarakat. Termasuk di lingkungan Muhammadiyah. Sebab, kita tahu, masalah ilmu sangatlah mendasar dalam pandangan Islam. Banyak ayat al-Quran dan hadith Nabi Muhammad saw yang menekankan pentingnya peran ilmu dalam kehidupan manusia.

Karena itu, kaum Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Orang-orang yang berilmu, yang disebut ulama, sangat dihormati posisinya. Ulama bukan hanya orang yang pintar tetapi yang juga bertaqwa kepada Allah. (QS 35:28). Ulama-ulama yang jahat (ulamaa’ al-suu’), sangatlah berbahaya bagi masyarakat. Baik ulama yang ilmunya salah, maupun ulama yang perilakunya jahat.

Sebab itu, orang yang ingin menyebut atau disebut dirinya ulama, cendekiawan, intelektual, dan sebagainya, yang ingin pendapat-pendapatnya didengar dan dituruti masyarakat, perlu sangat berhati-hati, senantiasa bersikap cermat, teliti, dan tidak mudah menyebarkan pendapatnya kepada masyarakat. Apalagi, ada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Ad Darimy, yang menyatakan "Orang yang terlalu mudah berfatwa (ceroboh) dalam berfatwa diantara kamu, akan masuk neraka.” (Lihat al-Faidhul Qadir, Jld 1, hadith no.183).

Diceritakan dalam buku Biografi Empat Imam Mazhab, karya Munawar Khalil, bawa Imam Malik -- guru Imam Syafii -- dikenal sangat berhati-hati dalam berpendapat dan bahkan lebih banyak menjawab "saya belum tahu" ketika ditanya pendapatnya tentang berbagai hal. Imam Syafii menceritakan, "Sungguh aku telah menyaksikan pada Imam Malik, bahwa beliau pernah ditanya masalah-masalah sebanyak 48 masalah. Beliau menjawab 32 masalah dengan perkataan, "Saya belum tahu".

Imam Abu Mash'ab juga menceritakan, "Aku belum pernah memberi fatwa tentang satu masalah, sehingga aku mengambil saksi dengan 70 orang ulama, bahwa aku memang ahli dalam soal yang demikian itu." Imam Abu Musa juga menceritakan, bahwa ketika berkunjung ke Iraq, Imam Malik ditanya 40 masalah, dan hanya 5 yang dijawabnya. "Tidak ada perkara yang lebih berat atas diriku, selain daripada ditanya tentang hukum-hukum halal dan haram," kata Imam Malik. Terkadang, untuk menemukan jawaban atas sesuatu, Imam Malik sampai tidak dapat makan dan tidur pulas. Kehati-hatian para imam besar itu, sangat perlu menjadi pelajaran. Sebab, jika seseorang salah dalam menyebarkan pendapat, maka ia akan bertanggungjawab terhadap kesalahan yang timbul akibat perbuatannya.

Karena itu, pada satu sisi kita gembira dengan bersemangatnya kaum muda muslim melakukan kajian-kajian keislaman. Namun, pada sisi lain, kita juga perlu prihatin jika kajian-kajian itu dilakukan dengan tidak serius dan sepintas tanpa mendalami akar persoalannya. Sebagai contoh, adalah tulisan yang dibuat oleh Ketua Program Kajian Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), pada 21 Mei 2004, di Republika, yang berjudul “Menghindari Kejumudan Penafsiran Islam”.

Kita bisa menyimak berbagai kecerobohan dan kekeliruan fakta dan pendapat yang cukup fatal dalam tulisan tersebut:

1. Ditulis: “Banyak yang mengganggap dan mempercayai, bahwa Islam yang otentik dan paling benar adalah Islam yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad semasa hidup.” Kita bertanya: “Apakah ada orang lain, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, yang memahami dan mempraktikkan Islam lebih baik dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw? Bukankah kuam Muslim pasti meyakini, bahwa Nabi saw adalah uswatun hasanah; contoh yang baik?”

Kita sungguh sulit memahami, jika ada yang menyebut dirinya intelektual Muslim, tetapi berani melakukan gugatan terhadap keislaman Nabi Muhammad saw, dengan alasan apa pun, termasuk dengan menyatakan, bahwa “pemahaman dan pelaksanaan Islam di masa Nabi SAW itu, hanya cocok untuk zaman dan tempatnya saja. ”Nabi hidup di zaman onta, kita hidup di zaman pesawat terbang," katanya.

Simaklah sebuah tulisan karya seorang dosen pemikiran Islam di Universitas Paramadina Mulya, di website islam liberal, 17 Mei 2004, yang menyatakan sebagai berikut: “Beranikah kita, misalnya, menggunakan pemahaman kita sendiri terhadap persoalan-persoalan keagamaan yang kita hadapai sekarang? Beranikah kita menggunakan hasil pemahaman kita sendiri berhadapan dengan pandangan-pandangan di luar kita? Misalnya berhadapan dengan Sayyid Qutb, al-Banna, Qardawi, Nabhani, Rashid Ridha, Muhammad bin Abd al-Wahab, Ibn Taymiyyah, al-Ghazali, Imam Syafii, al-Bukhari, para sahabat, dan bahkan bisa juga Nabi Muhammad sendiri.”

Begitulah kata-kata calon doktor yang merupakan alumnus pesantren terkenal di Bekasi. Bayangkan, ada dosen pemikiran Islam, yang tetap mengaku Muslim, yang berani mengkategorikan, pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah, al-Ghazali, Imam al-Syafii, para sahabat, bahkan pemikiran Nabi Muhammad SAW, dan mengajak kita untuk berani mengkritik mereka. Sementara, di tulisan yang sama, dia mengutip pendapat seorang Immanuel Kant, tanpa kritik apa pun!

Sebagai Muslim kita wajib beriman bahwa Nabi Muhammad adalah ma’shum, terjaga dari kesalahan. Jika ada meragukan akan hal ini, konsekuensinya, jelas akan meragukan al-Quran dan hadits Nabi sebagai sumber kebenaran. Jika hal itu terjadi, maka apakah lagi yang tersisa dari Islam? Padahal, Allah SWT berfirman: “Dan dia (Muhammad SAW) tidak menyampaikan sesuatu, kecuali (dari) wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS, Al-Najm: 3).

Nabi Muhammad SAW memang seorang manusia biasa, tetapi beliau berbeda dengan manusia lainnya, karena beliau menerima al-wahyu. (QS Fushilat:6). Bahkan, dalam surat al-Haaqqah ayat 44-46, Allah memberikan ancaman kepada Nabi Muhammad SAW: “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”

Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah penerima wahyu, dan beliau adalah yang paling memahami makna yang terkandung dalam wahyu tersebut. Kita sungguh sulit memahami, jika ada manusia yang merasa lebih pandai dari Nabi SAW dalam menafsirkan al-Quran.

2. Ditulis: “Bila kita lihat ke belakang, hal itu berawal dari intensnya persentuhan umat Islam dengan politik dan perebutan kekuasaan pada masa dan pasca dinasti Abbasiyah dan Umayyah. Secara simbolik, mungkin saat itu bisa dikatakan Islam mencapai zaman keagungan. Namun, perkembangan Islam secara substansial sebetulnya menjadi stagnan. Terlebih lagi, setelah daerah kekuasaan Islam banyak yang jatuh ke tangan bangsa kolonial lewat Perang Salib ataupun perang saudara. Sebab, saat itu para ulama menyerukan agar ijtihad dihentikan. Alasannya, jika perbedaaan pemahaman keagamaan dibiarkan terus berlanjut, umat Islam semakin terpuruk karena terjadi perang saudara.

Pada akhirnya, fikih boleh berkembang dibatasi hanya pada 4 (empat) mazhab; Hambali, Maliki, Hanafi, dan Syafii. Sedangkan kalam (teologi) yang banyak dianut adalah teologi Asy'ariah. Dan tasawuf serta filsafat yang dijadikan rujukan adalah paham yang dibawa oleh Al-Ghazali.” Begitulah kutipan dari penulis artikel tersebut.

Kita sebenarnya sulit memahami logika penulis dari kelompok intelektual yang mengusung nama Muhammadiyah ini. Sejak berdirinya daulah Madinah, dengan Konstitusi Madinah-nya, yang sangat terkenal dan diakui sebagai “Konstitusi tertulis pertama di dunia”, maka sejak itu pula umat Islam sudah intens dengan politik. Nabi Muhammad SAW adalah kepala negara. Begitu juga para khulafaurrasyidin. Jadi, apa yang aneh dengan persentuhan yang intens antara umat Islam dengan politik? Apakah karena itu, kemudian terjadi penyimpangan dalam penafsiran ajaran Islam? Logika ini hanya muncul, jika kata “politik” dipahami dalam kerangka pikir Machiavelis.

Kita bertanya kepada penulis artikel itu: “Siapakah ulama yang menyerukan ijtihad dihentikan? Ketika Perang Salib bermula, tahun 1095, dan mulai menduduki sebagian wilayah Suria, tahun 1097, umat Islam masih mengalami zaman kegemilangan secara peradaban, termasuk dalam bidang intelektual. Hanya sebagian kecil wilayah Islam yang jatuh ke tangan pasukan Salib. Literatur tentang masalah ini melimpah ruah.

Pada saat-saat itu pula, al-Ghazali menulis karya besarnya, Ihya’ Ulum al-Diin. Berabad-abad kemudian, masih bermunculan ulama-ulama besar, seperti Ibn Taimiyah, Imam Fakhruddin al-Razi, dan sebagainya, dengan karya-karya agung mereka, yang hingga kini masih dijadikan bahan kajian para intelektual –-muslim dan non-muslim-– di berbagai dunia. Pintu Ijtihad tidak pernah tertutup. Tidak ada yang bisa menutup pintu ijtihad itu. Hanya saja, seseorang mestilah “berkaca diri”, apakah dirinya memang layak mengaku mujtahid, padahal belum memahami al-Quran, hadith, serta berbagai perangkat ijtihad lainnya. Imam dan pemikir besar seperti al-Ghazali, al-Bukhari, dan sebagainya, tetaplah mengakui mengikuti Imam al-Syafii dalam bidang ushul fiqih. Jika Imam al-Bukhari saja mau mengakui keagungan Imam al-Syafii, apakah ada intelektual dari Muhammadiyah yang bisa menyusun hadith sendiri, tanpa mengikuti koleksi hadith al-Bukhari? Bahkan, tokoh Mu’tazilah, Qadhi Abdul Jabbar pun juga bermazhab al-Syafii. Imam Ibn Taimiyah yang telah menulis ratusan Kitab juga mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam al-Ghazali, meskipun beliau menulis kitab Ushul Fiqih, tetapi beliau pun tetap mengakui otoritas al-Syafii. Itulah sikap para ilmuwan Muslim, tahu adab, tahu diri, tawadhu’, mengakui otoritas ilmuwan lain, yang diakuinya lebih hebat dari dirinya.

Jika penulis artikel dari intelektual Muhammadiyah itu lebih mau bersikap cermat, maka akan paham, bahwa mazhab fiqih dalam Islam tidak hanya empat itu saja. Ada mazhab Ja’fary, Dawud al-Dhahiry, dan sebagainya. Sudah banyak kajian, mengapa empat mazhab itu yang kemudian lebih berkembang di dunia Islam. Tidak ada yang membatasi bahwa mazhab fiqih yang boleh berkembang hanya empat mazhab itu saja.

3. Ditulis juga: “Pembakuan penafsiran dan corak keber-Islam-an itu, sebetulnya justru malah membuat umat Islam tidak kreatif, apologetis, serta senantiasa memuja masa lalu. Mereka seringkali tidak berusaha untuk mencari makna agama dengan berpikir mandiri dan kritis, soalnya semua urusan senantiasa dikembalikan ke otoritas teks dan masa lalu. Padahal, menurut Nasr Hamid Abu Zaid (2003), antara Islam dan pemahaman Islam haruslah dibedakan. Artinya, Islam sebagai wahyu Tuhan adalah bersifat universal dan berlaku sepanjang masa. Akan tetapi, untuk mewujudkan wahyu Islam yang universal itu dalam tatanan kehidupan yang nyata, membutuhkan sebuah pemahaman. Dan pemahaman itu, tentu sangat berkaitan dengan situasi geografis dan perkembangan zaman yang terjadi.”

Mencermati tulisan intelelektual muda Muhammadiyah ini, kita patut prihatin, karena pada akhirnya, ia pun merujuk dan memuja masa lalu, dengan menokohkan Nasr Hamid Abu Zaid, yang banyak memuji aliran Mu’tazilah. Padahal, jika kita telaah buku Mafhum al-Nash, dan karya-karya Nasr Hamid yang lain, banyak masalah yang bisa kita kritisi. Dr. Anis Malik Toha, dosen di Universitas Islam Internasional Malaysia, dalam kajiannya terhadap buku Nasr Hamid yang berjudul “Naqd al-Khitab al-Diiniy”, membuktikan, bahwa adanya dominasi pola pikir sekulerisme dalam diri Nasr Hamid. Karena itu, sebelum seseorang menolak dan membuang karya-karya besar ulama Islam terdahulu, dan mengadopsi pemikir modern seperti Nasr Hamid, mestinya dilakukan kajian yang serius dulu. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah berbagai berbagai ironi.

Bisa-bisa muncul apa yang disebut sebagai “mujtahidun jahilun”, mujtahid bodoh, yang ingin disebut mujtahid, tetapi sejatinya tidak tahu apa-apa.

Jika kita melakukan kajian peradaban dengan serius, maka kita akan menjumpai, bahwa Umat Islam mencapai kegemilangan selama ratusan tahun, dengan menggunakan pola pendekatan yang dicontohkan Rasulullah, para sahabat, tabi’in, para ulama besar, seperti Maliki, al-Syafii, al-Asy’ari, al-Ghazali, dan sebagainya. Contoh yang jelas, adalah bagaimana keberhasilan Shalahuddin al-Ayyubi dalam mengembalikan kejayaan Islam dan mengalahkan Pasukan Salib, serta merebut Jerusalem pada tahun 1187. Buku yang ditulis Carole Hillenbrand, berjudul “The Crusades: Islamic Perspectives” ( Edinburgh University Press, 1999), menggambarkan bagaimana pengaruh pemikiran Islam mazhab Asy’ari, Syafii, dan peran para ulama Ahlus Sunnah lainnya, dalam kebangkitan para pemimpin Muslim ketika itu, termasuk dalam diri Shalahuddin al-Ayyubi.

Tentang masalah geografi dan waktu, sebenarnya juga hal yang sangat jelas dalam Islam. Kita bisa melihat, bahwa dalam banyak aspek, ajaran Islam bersifat universal, tidak melihat tempat dan waktu. Kapanpun, di mana pun, kaum Muslim akan sholat dalam bahasa Arab, Azan dalam bahasa Arab, meskipun masyarakat tidak mengerti makna azan itu. Tidak boleh diubah. Apakah terpikir, jika di kalangan JIMM ada yang tidak mengerti bahasa Arab lalu mengubah azan dalam bahasa Jawa, agar Islam cocok untuk setiap tempat? Tentu tidak, sampai kapan pun!

Sebab itu, kita sebenarnya sangat prihatin, jika pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak cermat, ceroboh, keliru, dan tidak mendalam, disebarkan ke tengah masyarakat dengan mengatasnamakan “intelektual” dari organisasi Islam tertentu. Masalah kekeliruan pemikiran ini sangat penting, tidak kalah pentingnya dengan pemilihan Presiden. Sebab, jika Presiden yang kita pilih berpikir salah tentang Islam atau dikelilingi oleh orang-orang yang berpikir salah, maka dampaknya akan sangat besar buat Islam, umat Islam, dan bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. (KL, 26 Mei 2004/Hidayatullah).

Memahami Liberalisme

Oleh Syamsuddin Arif, Ph.D
Tiga hal mencakup paham liberalisme. Pertama kebebasan berfikir, pandangan skeptik dan agnostik. Terakhir manifestasi nifaq. Tidak mau disebut kafir jika sudah tidak committed pada agamanya

Menyusul terbitnya fatwa MUI belum lama ini, terdengar suara-suara sumbang yang mempersoalkan definisi liberalisme. Istilah ‘liberalisme’ berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Hingga penghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat dengan konsep manusia merdeka, bisa semenjak lahir ataupun setelah dibebaskan, yakni mantan budak (freedman).

Dari sinilah muncul istilah ‘liberal arts’ yang berarti ilmu yang berguna bagi dan sepatutnya dimiliki oleh setiap orang merdeka, yaitu arithmetik, geometri, astronomi dan musik (quadrivium) serta grammatika, logika dan rhetorika (trivium).

Di zaman Pencerahan, kaum intelektual dan politisi Eropa menggunakan istilah liberal untuk membedakan diri mereka dari kelompok lain.

Sebagai adjektif, kata ‘liberal’ dipakai untuk menunjuk sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent), berpikiran luas lagi terbuka (open-minded) dan, oleh karena itu, hebat (magnanimous).

Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan kecenderungan yang berlawanan dengan dan menentang ‘mati-matian’ sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.

Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi –jika tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan tertentu, liberalisme identik dengan kapitalisme.

Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan.

Biarkan wanita menentukan nasibnya sendiri, sebab tak seorang pun kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat.

Artinya, konsep amar ma’ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka, menurut prinsip ini. Karena menggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi, maupun sosial, maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengan sekularisme.

Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis 1789 -kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (liberté, égalité, fraternité) sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern.

Sebagaimana diungkapkan oleh H. Gruber, prinsip liberalisme yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas -apapun namanya- adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia –yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada di luar dirinya (it is contrary to the natural, innate, and inalienable right and liberty and dignity of man, to subject himself to an authority, the root, rule, measure, and sanction of which is not in himself).

Di sini kita mencium bau sophisme dan relativisme ala falsafah Protagoras yang mengajarkan bahwa “manusia adalah ukuran dari segalanya” – sebuah doktrin yang kemudian dirayakan oleh para penganut nihilisme semacam Nietzsche.

Sebagai anak kandung Humanisme dan Reformasi abad ke-15 dan 16, liberalisme dikembangkan oleh para pemikir dan cendekiawan di Inggris (Locke dan Hume), di Perancis (Rousseau dan Diderot) dan di Jerman (Lessing dan Kant).

Gagasan ini banyak diminati oleh elit terpelajar dan bangsawan yang menyukai kebebasan berpikir tanpa batas. Sebagaimana dinyatakan oleh Germaine de Staël dalam karyanya, Considérations sur les principaux événements de la Révolution française (1818), kaum liberal menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, dan menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja.

Pada awalnya, liberalisme berkembang di kalangan Protestant saja. Namun belakangan wabah liberalisme menyebar di kalangan Katholik juga. Tokoh-tokoh Kristen liberal semacam Benjamin Constant antara lain menginginkan agar pola hubungan antara institusi Gereja, pemerintah, dan masyarakat ditinjau ulang dan diatur lagi.

Mereka juga menuntut reformasi terhadap doktrin-doktrin dan disiplin yang dibuat oleh pihak Gereja Katholik di Roma, agar ‘disesuaikan’ dengan semangat zaman yang sedang dan terus berubah, agar sejalan dengan prinsip-prinsip liberal dan tidak bertentangan dengan sains yang meskipun anti-Tuhan namun dianggap benar.

Secara umum, yang dikehendaki ialah kebebasan bagi siapa saja untuk menafsirkan ajaran agama dan kitab sucinya, ketidak-terikatan dengan aturan-aturan maupun keputusan-keputusan yang dikeluarkan pihak Gereja, pengakuan otoritas pemerintah vis-à-vis otoritas Gereja, dan penghapusan sistem kependetaan (clericalism). Inilah yang kemudian dikecam oleh Paus Pius ke-9, Leo ke-13 dan Pius ke-10.

Kecenderungan-kecenderungan seperti ini mereka sebut “modernisme” (Lihat: Jean Reville, Liberal Christianity (London, 1903); Georges Weill, Histoire de Catholicisme libéral en France, 1828-1908 (Paris, 1909); dan Orestes A. Brownson, Conversations on Liberalism and the Church (New York, 1869).

Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangan cendekiawan yang konon dianggap sebagai “pembaharu” (mujaddid). Mereka yang menjadi liberal antara lain: Rifa‘ah at-Tahtawi (1801-1873 M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India, Muhammad Iqbal (1877-1938 M).

Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia (Lihat: Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age, London, 1962; Leonard Binder, Islamic Liberalism, Chicago, 1988; dan Charles Kurzman, Liberal Islam, New York, 1998; dan Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Jakarta, 1999).

Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnya kurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, al-Qur’an dan Hadits mesti dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralisme dan lain lain-lain.

Pendek kata, meminjam ungkapan Binder, liberalism treats religion as opinion and, therefore tolerates diversity in precisely those realms that traditional belief insists upon without equivocation. Maka wajarlah jika kemudian ia menilai bahwa Islam and liberalism appear to be in contradiction (hlm.2)

Dari uraian ringkas di atas dapat kita simpulkan bahwa paham liberalisme mencakup tiga hal: (1) free thinking; (2) sophisme; dan (3) loose adherence to and free exercise of religion.

Yang pertama berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. “Berpikir kok dilarang,” ujar mereka. Yang kedua biasanya lebih dikenal dengan istilah ‘sufastha’iyyah’, yakni pandangan-pandangan skeptik, agnostik, dan relativistik.

Sementara yang disebut terakhir tidak lain dan tidak bukan adalah manifestasi nifaq, dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupun dirinya sudah tidak committed lagi pada ajaran agama.

*) Penulis adalah peneliti INSISTS di Frankfurt am Main, Jerman. Dimuat di Hidayatullah.com

15 September 2009

Politik Barat

The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia," (Bush, 6/10/2005)
Akhirnya secara terbuka pada 6 Oktober 2005, presiden AS George W. Bush menyebutkan musuh utamanya di abad ini adalah umat Islam yang menginginkan tegaknya kembali kekuasan Islam. Pernyataan ini dikeluarkan Bush saat memberikan sambutannya tentang terorisme di National Endowment for Democracy, Ronald Reagen Building and International Trade Center. Dia berjanji akan terus melanjutkan perang melawan terorisme. Kalau selama ini kelompok dan individu yang menentang kepentingan AS diberikan julukan terorisme secara umum, kali ini Bush akhirnya menyebutkan bahwa teroris yang ia maksud (dan dia menggunakan kata-kata 'serangan' dalam ucapannya) adalah golongan yang ingin memperjuangan ideologi yang jelas dan terfokus, tapi bukan pemikiran gila. Sebagian dari kelompok ini disebut islam radikal yang jahat, angkatan jihad bersenjata, dan Islam fasis."

Dia juga menambahkan " apapun golongan ini dijuluki, dia berbeda dengan Islam yang sebenarnya". " Islam yang sebenarnya" yang dimaksud Bush adalah versi Islam moderat yang mendukung keinginan (aspirasi) Barat. Selanjutnya, dia menambahkan: "golongan ini sanggup mengeksploitasi Islam demi tujuan politiknya yang jahat". Tentu yang dimaksud oleh Bush dengan tujuan politik jahat, kalau tidak sejalan dan mendukung aspirasi Barat. Dari ucapannya ini jelas sekali Bush sedang menuding langsung kepada kaum muslimin yang ingin berjuang mengembalikan Negara Islam (Daulah Khilafah) secara khusus. Untuk mendukung pernyataannya, Bush mengeluarkan berbagai tuduhan dan kebohongan yang muncul dari ketakutan dan kekhawatirannya terhadap visi dan misi umat Islam seluruh dunia untuk kembali menegakkan kekuaasan Islam. Tuduhan Bush tersebut antara lain :


Kelompok ini dituduh ekstrimis dan hendak menghilangkan pengaruh dominasi AS dan Barat di Timur Tengah. Perlawanan terhadap AS muncul karena AS ingin menegakkan demokrasi dan keamanan, dan membantu mencapai "cita-cita umat islam" diseluruh dunia ke arah 'kebebasan'


Jaringan bersenjata dituduh ingin mengeksploitasi kekosongan kekuasaan (vacum) yang muncul karena AS mundur dari Irak. Negara ini akan dijadikan pangkalan untuk menyerang dan memerangi negara 'moderat' di negeri-negeri muslim. Ia menambahkan, selama beberapa tahun ini, kelompok Islam ini menjadikan Mesir, Arab Saudi, Pakistan dan Yordania sebagai tempat potensial untuk mengambil alih kekuasaan.


Kelompok bersenjata ini yakin dengan menguasai satu negara, akan dapat mengerahkan seluruh umat Islam untuk menggulingkan kerajaan/negara moderat di sekitarnya dan menciptakan imperium Islam radikal dari Spanyol hingga Indonesia.


Pernyataan Bush ini menunjukkan beberapa hal :


AS akan melanjutkan perang melawan 'terorisme' atas nama demokrasi dan keamaan. Namun pada hakekatnya, tindakan AS lebih zalim dari binatang buas yang sedang menikmati hidangannya. Lupakah kita bagaimana AS membunuh anak-anak dan orang tua dan perang Irak dan Afghanistan ?


AS tidak akan mundur selamanya dari Irak. Pengunduran negara itu memberikan peluang bagi tegaknya negara Khilafah yang akan menjadi pemimpin umat Islam. Penjajahan AS di Irak sesungguhnya karena didorong keinginan untuk menjadikan Irak sebagai pusat kekuasaannya dan menyebarkan ideologi Kapitalisme-demokrasi di Timur Tengah. Hal ini karena Daulah Khilafah yang tegak ini akan menghancurkan ideologi kufur dan negara pendukung dan penyebarnya seperti AS, Barat dan negara-negara di negeri Islam yang menerapkan demokrasi. (Farid Wadjdi; 25/10/2005)


Wujud ketakutan dan kebencian membara dalam jiwa kafir Bush terhadap Islam setelah mengetahui dan yakin bahwa Daulah Khilafah pasti akan tegak berdasarkan skenario yang ada dalam dokumen "Mapping the Global Future" terbitan National Intelligence Council, sebuah badan dibawah CIA


AS ingin terus mempertahankan cengkraman dan pengaruh kapitalismenya di dunia Islam sehingga Ideologi ini terus diterapkan di dunia Islam. AS tidak ingin penjajahannya berakhir yang akan membawa kehancurannya dan kehancuran sekutu-sekutunya.


Menghalalkan secara cara untuk terus memburu dan menyerang kelompok dan negara yang mendukung perjuangan tegaknya Khilafah Islamiyah yang dikatakan olehnya akan menafikkan kebebasan politik dan agama


Menghalangi aktivitas partai politik Islam yang berusaha menegakkan Khilafah, seperti Hizbut Tahrir. HT, sebagai contoh telah berjuang lebih dari 50 tahun untuk mengembalikan Islam secara kaffah tanpa menggunakan kekerasan dan hanya lewat perang pemikiran. AS dan sekutunya, yang sekarang ini masih berjaya, menggunakan media untuk menyesatkan pemikiran Islam dan aspirasi kebangkitan umat Islam. Lewat media masa ini, Barat coba mengkaitkan aktivitas partai Islam yang bergerak secara damai seperti Hizbut Tahrir dengan aktivitas militan.

Bush dalam pidatonya mengatakan, "The murderous ideology of the Islamic radicals is the great challenge of our new century. Like the ideology of communism, our new enemy teaches that innocent individuals can be sacrificed to serve a political vision" (Ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar bagi kita pada abad ini. Seperti ideologi komunis, musuh baru kita ini mengajarkan individu yang tidak bersalah boleh dikorbank untuk mencapai visi politiknya). Bush meletakkan pengertian umum 'Islam Radikal' untuk memasukkan semua perjuangan Islam, termasuk perjuangan yang tidak menggunakan kekerasan dalam upaya mengembalikan Khilafah Islam. Bagi Bush, gerakan apapun yang ingin menegakkan Khilafah Islam akan disebut militan Islam.

Semua kenyataan ini menunjukkan sikap dan motif utama Amerika dalam agenda mereka menentang terorisme. Hakikatnya, tantangan mereka ini adalah tantangan terhadap sistem politik Islam- Al Khilafah. Negara al-Khilafah yang dikenal sebagai Daulah Islam adalah sistem politik yang dibangun oleh Rosulullah Saw yang kemudian dihancurkan oleh Inggris lewat agennya Mustafa Kamal At-Tartuk di Istanbul pada 3 Maret 1924.

Sebenarnya, Ideologi Islamlah yang dikhawatirkan oleh AS. Ideologi ini jika dilaksanakan dan diterapkan oleh kaum muslim pasti akan meruntuhkan ideologi Kapitalisme. Ideologi Islam akan menyatukan umat Islam dibawah naungan Daulah Khilafah Islam, sebuah negera yang berideologi Islam dan bersifat global. Umat Islam di bawah Khilafah juga akan menerapkan syariat Islam untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari.

Dengan penerapan ideologi Islam berikut sistemnya, Kapitalisme akan ditinggalkan dan dilupakan. Jelas ini akan mengancam keberadaan penjajah AS. Karena kunci keberhasilan penjajahan AS tidak lain kalau umat Islam masih menganggap ideologi Kapitalisme baik buat mereka dan masih diterapkan dinegeri-negeri Islam.

Oleh karena itu, peperangan ideologi yang bermula dari perang pemikiran adalah yang paling ditakuti oleh AS. AS menjalankan perang pemikiran ini agar umat Islam menganggap Ideologi Kapitalisme cocok untuk mereka. Sekaligus AS lewat perang pemikiran ini berupaya melemahkan pemikiran umat Islam dan membangun kebohongan terhadap ideologi Islam serta mencegah perjuangan untuk mengembalikan Khilafah Islam.

Pada tahun 2002, bekas Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowitz mengatakan, "Saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teroris, perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar kita hadapi adalah perang pemikiran, ini jelas merupakan tantangan, namun akan juga kita menangkan"

Pada tahun 2004, Penasehat Keamanan AS, Condoleeza Rice juga mengatakan, "kemenangan sebenarnya tidak akan muncul hanya karena teroris dikalahkan dengan kekerasan, tapi kalau ideologi kematian dan kebencian dikalahkan"

AS yakin dapat mengalahkan peperangan bersenjata yang dilakukan oleh sebagian umat Islam. Karena kekuatan persenjataan AS jauh lebih baik dibanding dengan para pejuang. Namun begitu, AS menyadari bahwa kekuatan ideologi Islam yang dianut oleh para pejuang yang mukhlis tidak akan mudah dikalahkan dan dihancurkan. Ideologi Islam secara fitrah lebih mudah menarik hati dan pikiran masyarakat. (HTI)

Untold Story

SEPTEMBER lalu, majalah Time memuat laporan utama yang menggemparkan: Umar al-Faruq mengaku kepada interogator Dinas Rahasia Amerika (CIA) bahwa ia adalah pejabat Al-Qaidah di Asia Tenggara yang beroperasi di Indonesia.

Menurut dokumen CIA, Faruq mengaku terlibat dalam kasus bom Natal 2000 dan berencana membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri atas perintah Abu Bakar Ba’asyir, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia. (Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87) ;)

Jejak Intelijen di Balik Al-Farouq
Banyak misteri dalam pengakuan itu. Siapa sebenarnya Al-Faruq? Kenapa Badan Intelijen Negara (BIN), yang menangkapnya atas tuduhan pelanggaran imigrasi, membiarkan dia jatuh ke tangan CIA? Kenapa Al-Faruq tidak diadili di sini jika benar ia telah membuat kejahatan besar di Indonesia?

Kenapa pula Abdul Haris, seorang aktivis Majelis Mujahidin Indonesia yang ditangkap bersama Al-Faruq, dilepas begitu saja? Benarkah dia tokoh yang disusupkan BIN ke dalam Majelis Mujahidin Indonesia untuk menjaring Ba’asyir dan kawan-kawan? Berikut ini investigasi TEMPO.

DI atas latar warna biru toska, gambar burung garuda dikitari bintang-bintang kecil terpampang pada kulit muka buku kecil itu. Mereka yang kerap berhubungan dengan dunia intelijen akan mudah mengenalinya sebagai simbol Badan Intelijen Negara (BIN). Dan pada bagian bawah sampul itu tercantum kata-kata "Sangat Rahasia".

Buku. kecil setebal 12 halaman itu, yang disalin isinya pekan lalu oleh wartawan TEMPO, memang memuat informasi yang tidak banyak diketahui umum. Sebagian isinya membeberkan rencana jahat sekelompok teroris untuk membunuh Megawati Soekarnoputri sebanyak dua kali, yakni ketika Megawati masih wakil presiden dan setelah menjadi presiden.

Seperti kita ketahui, pembunuhan itu tidak pernah terjadi. Namun, buku kecil itu bercerita lebih banyak dari sekadar plot dan skenario. Dia juga menghadirkan aktor-aktor.

Salah satu aktor adalah Syawal alias Salim Yasin alias Abu Seta, pria asal Makassar yang disebut dalam buku itu pernah berjihad di Afganistan. Dialah salah satu teroris yang, menurut buku itu, berencana membunuh Megawati pada Mei 1999. Adalah Syawal pula orang pertama yang dikontak ketika Umar al-Faruq alias Mahmud bin Assegaf, pria asal Kuwait itu, datang ke Indonesia.

Dan kisah selebihnya sudah menjadi rahasia umum. Majalah Time pada edisi 23 September 2002 memuat laporan utama yang mengguncangkan, membuat kisah yang semula hanya menjadi kasak-kusuk lingkungan intelijen itu terkuak ke kalangan publik. Mengutip antara lain dokumen Dinas Rahasia Amerika (CIA), majalah itu menulis pengakuan lengkap Al-Faruq, yang pernah tercatat sebagai penduduk Desa Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Jawa Barat. Lebih dari sekadar operator, menurut Time, Al-Faruq adalah petinggi Al-Qaidah untuk kawasan Asia Tenggara.

Di samping terlibat dalam dua kali rencana pembunuhan terhadap Megawati, menurut majalah itu Al-Faruq mengaku terlibat dalam peledakan bom di sejumlah kota di Indonesia pada malam Natal tahun 2000 serta merencanakan peledakan sejumlah sarana milik AS di Singapura dan Indonesia. Semua aksi ini ia lakukan dengan bantuan Abu Bakar Ba'asyir, pemimpin Pondok Pesantren Ngruki, Solo.

Nyanyian Al-Faruq yang direkam oleh CIA itu segera mendatangkan hasilnya di Jakarta. Pengakuan itu membuat polisi punya alasan menahan Abu Bakar Ba'asyir, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia yang juga disebut-sebut sebagai pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah. Belakangan, polisi Indonesia memang membantah penangkapan Ba'asyir melulu berdasar nyanyian Al-Faruq, tapi berdasar pula kesaksian warga Malaysia yang ditahan pemerintah Singapura, Faiz bin Abu Bakar Bafana (lihat TEMPO 18 November 2002).

Bagaimanapun, Faruq menjadi orang pertama yang "bernyanyi" tentang Ba'asyir dan membuat ustad ini ditahan polisi pada 18 Oktober lalu, beberapa hari setelah ledakan bom hebat mengguncang Legian, Bali.

Tapi, siapa sebenarnya Al-Faruq, yang menurut buku kecil BIN itu kini ditawan di pangkalan militer milik Amerika Serikat di Baghram, Afganistan?

Penelusuran TEMPO atas tokoh ini lebih banyak memunculkan pertanyaan baru ketimbang membuatnya jernih. Sejumlah dokumen resmi menyebut dia lahir di Indonesia dan warga negara negeri ini. Sumber lain menyebut dia lahir di Irak atau Kuwait dan memiliki paspor Kuwait. Yang hampir pasti, ia memiliki kartu tanda penduduk, akta kelahiran, dan kartu keluarga di empat lokasi: Ambon, Makassar, Jakarta, dan Bogor (lihat Dasamuka yang Suka Menyaru).

Siapa pun Al-Faruq, ia kini populer sebagai teroris besar dengan rencana yang sangat jahat, seperti ingin membunuh presiden serta belasan orang dalam kasus bom Natal. Tapi kenapa dia kini berada di dalam tahanan Amerika, bukan di balik jeruji Indonesia sehingga bisa menjawab sebagian dari misteri hidupnya? Bukankah ia ditangkap di Indonesia, oleh aparat Indonesia?

Al-Faruq diciduk pada 5 Juni 2002 di Masjid Raya Bogor. Alasan resmi penangkapannya adalah pelanggaran dokumen imigrasi.

Menteri Kehakiman Yusril Izha Mahendra menjelaskan dalam pertemuan dengan anggota DPR Oktober silam, Faruq dideportasi karena, sebagai orang Timur Tengah yang mengaku warga negara Indonesia, ia tak bisa menunjukkan surat bukti kewarganegaraan Indonesia. Al-Faruq dihijrahkan ke Malaysia dengan pesawat Malaysia Airlines beberapa saat setelah ia dibekuk. Dan Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat, mengatakan Al-Faruq dideportasi ke Malaysia atas permintaannya sendiri (lihat Misteri Hari Terakhir).

Malaysia, Amerika Serikat, Guantanamo, Kuba. Atau Baghram, Afganistan. Entah di mana Al-Faruq sesungguhnya berada sekarang. Sebab, kisahnya ke Malaysia pun boleh jadi cuma fiksi. Seorang pejabat BIN kepada TEMPO beberapa waktu lalu mengatakan: "Faruq sebetulnya tidak diekstradisi ke Malaysia, tapi langsung diangkut ke Amerika Serikat," ujamya.

Aparat BIN, menurut sumber itu, mencap sendiri paspor Faruq seperti seolah-olah dia pergi ke Malaysia. "Dengan begitu, orang akan yakin dia terbang dulu dari Indonesia, ke Malaysia, baru ke Amerika Serikat," katanya. Padahal, pada kenyataannya Al-Faruq diangkut langsung ke sebuah pesawat militer Amerika yang sudah menunggu di Bandara Halim Perdanakusumah. Prosedur istimewa? Tidak sepenuhnya begitu dan toh ini bukan pertama kali.

Sejumlah media asing, majalah Time edisi 18 Maret 2002, misalnya, menyebut adanya kerja sama yang baik antara intelijen Indonesia dan Amerika dalam "perang melawan teror". Al-Faruq bukanlah hasil tangkapan Indonesia pertama yang kemudian disetor ke Amerika.

Harian The Australian menulis tentang seorang Pakistan bernama Hafiz Muhammad Sasa Iqbal yang ditangkap dalam operasi intelijen Indonesia pada 9 Januari 2002 dan "dideportasi" ke Mesir atas permintaan CIA.

Dalam penjelasan resminya kepada Koran Tempo (edisi 25 Februari 2002), Kapolri Da'i Bachtiar mengatakan: "Iqbal adalah titipan dari pihak imigrasi yang pernah diperiksa polisi. Dia juga disebut-sebut punya kaitan dengan jaringan Al-Qaidah sehingga dideportasi ke luar negeri." Tapi pengakuan Faruq membuat kisah pengirimannya ke luar negeri menjadi lebih kontroversial dibanding Iqbal. Banyak pihak, termasuk media massa, mempersoalkan mengapa Indonesia menyerahkan begitu saja orang yang dituding melakukan kejahatan besar di Indonesia ke tangan orang asing.

Profesor emeritus Daniel S. Lev, bekas dosen Universitas Washington di Seattle dan seorang pengamat senior masalah Indonesia, termasuk yang memandang aneh pelepasan Al-Faruq itu. "Semestinya ia diadili di Indonesia," kata Lev, yang pernah mengkaji sistem hukum Indonesia serta mendalami masalah hak asasi manusia dan perbandingan politik. "Bukankah perbuatan pidana yang dituduhkan itu terjadi di Indonesia, bukan Amerika? Atas dasar apa dia diserahkan ke Amerika?"

Lev mengatakan, dia mengendus ada permainan tapi tidak tahu persis permainan apa. "Saya tanya ke orang-orang di Washington. Tapi mereka juga mengaku tidak tahu," ujamya. "Pemerintahan Bush memang aneh. Tetapi yang lebih aneh lagi adalah Jakarta, mengapa pemerintah rela begitu saja menyerahkan orang ini."

Jangankan Daniel Lev. Mira Agustina, istri Al-Faruq, pun mengaku penuh diliputi tanda tanya ketika suaminya tiba-tiba menghilang begitu saja sejak 4 Juni lalu.

Subuh pada 5 Juni, dua orang berbadan tegap serta berjaket hitam yang mengaku aparat imigrasi memberondong masuk rumahnya di Cijeruk, Bogor. Menurut Oman Komariah, ibu Mira, ada sekitar 20 pria dengan perawakan dan pakaian serupa yang menunggu di halaman rumah. "Mereka minta diantar ke kamar Faruq dan akan segera membawa Al-Faruq," kata Oman. Tapi Al-Faruq tidak ada. Para tamu akhirnya hanya membawa sejumlah barang dan berkas milik tuan rumah.

Ketua rukun warga setempat, Ukus Sewaka, yang datang mendekat karena mendengar suara gaduh, mencoba menanyakan identitas para tamu asing itu, tapi dijawab singkat dan sangar: "Dari imigrasi pusat!" Tatkala Ukus mau mencatat nomor mobil mereka --empat Mitsubishi Kuda dan satu Panther asal Jakarta dan Bogor-- mereka mencegahnya. Itu membuat Ukus mengerut dan tak berani ikut masuk ke rumah Mira ketika terjadi penggeledahan. "Abdi sieun (saya takut)," ujarnya.

Muchyar Yara dari BIN mengatakan penggerebekan dan penangkapan Al-Faruq dilakukan lembaganya bersama aparat imigrasi. Tapi, kata Yara, BIN-lah yang melakukan koordinasi. "Penangkapan itu memang kami yang mengarahkan," tuturnya. Alasan keimigrasian bisa jadi bukan dalih utama. "Kami memperoleh informasi awal dari intelijen Filipina, Singapura, dan Amerika bahwa ada orang asing di kampung (Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Bogor) yang terlibat dalam jaringan terorisme," Yara melanjutkan.

Menteri Koordinator Polkam, Susilo Bambang Yudhoyono, membenarkan kesaksian Muchyar Yara. Dalam pernyataannya di Bandung, 20 September lalu, Yudhoyono mengatakan: "Pemerintah tahu pasti rencana dan penangkapan Al-Faruq. Sebab, pekerjaan itu dilakukan intelijen Indonesia setelah melakukan investigasi untuk memerangi terorisme."

Al-Faruq, menurut Muchyar Yara, ditangkap oleh suatu tim di bawah komando Mayor Andika, seorang perwira Kopassus yang diperbantukan ke BIN. Kebetulan atau tidak, sang Mayor adalah menantu Kepala BIN Letnan Jenderal (Purn.) Hendropriyono. Dengan kata lain, ini lebih mirip operasi polisi. BIN rupanya tidak hanya melakukan pengumpulan data intelijen, tapi juga menangkapi orang --sebuah praktek yang ganjil.

Masih ada kejanggalan lain. Pihak imigrasi sendiri membantah terlibat. Direktur Jenderal Imigrasi Iman Santoso, yang tengah berada di Jerman saat itu, mengatakan tidak tahu masalah dan alasan penangkapan. Al-Faruq. Sementara itu, Kepala Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Ade Endang Dahlan juga menegaskan pihak imigrasi tidak mengetahui ataupun terlibat dalam penangkapan tersebut.

Kepolisian Republik Indonesia memang belakangan mengirirnkan dua petugasnya ke Afganistan untuk memeriksa Al-Faruq guna kepentingan penyidikan terhadap Abu Bakar Ba'asyir. "Tapi mereka manbantah keterlibatannya dalam penangkapan Al-Faruq sendiri. "Tidak pernah ada penangkapan itu," kata Kepala Humas Polri Brigjen Saleh Sa'af kepada Tempo News Room, awal Juli lalu. Belakangan, seorang perwira tinggi di Mabes Polri membisikkan hal ini kepada TEMPO: "BIN tak melibatkan polisi." Menurut pejabat itu, setelah ditangkap, BIN menyerahkan Faruq ke polisi. Namun polisi tak bisa menemukan bukti pelanggarann.ya kecuali soal pemalsuan dokumen imigrasi itu. Lalu, soal deportasi ke Amerika itu?

"Penyerahan ke Amerika itu tidak lepas dari desakan negara adikuasa tersebut,” kata sumber di Polri tersebut. "Dan ini membuktikan bahwa nuansa politis dari kasus ini semakin jelas." Tekanan politis ini pula yang barangkali membuat BIN akhirnya merelakan jeri.h-payah memburu Al-Faruq yang mereka lakukan dilakukan melalui penyadapan jaringan telepon internasional (lihat Jejak Seluler Meringkus Faruq).

Gunjingan terhadap BIN makin keras ketika sebuah fakta lain muncul dalam penangkapan Faruq. Seorang pria bernama Abdul Haris dibekuk bersamanya, tapi kemudian dibebaskan. Kepada TEMPO, yang sempat mewawancarainya, Haris mengaku persangkutannya dengan Faruq hanya karena urusan paspor. "Saya mengenal Faruq karena membantu menguruskan paspor isterinya, Mbak Mira," ujarnya.

Namun, penelusuran TEMPO menemukan indikasi kuat bahwa dia bukan sekadar "calo paspor": dia orang BIN yang ditanam dalam Majelis Mujahidin Indonesia.

Dalam Majelis Mujahidin, Haris duduk sebagai pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid --sebuah posisi strategis yang mengatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan di luar negeri. Namun, pada saat yang sama, bahkan Polri sendiri mengatakan Haris adalah anggota BIN. Dalam pernyataan resminya yang dilansir oleh situs Liputan6.com, Kapolri Da'i Bachtiar menyatakan Haris adalah orang BIN yang menemani dua polisi berangkat ke Afganistan untuk menemui Al-Faruq. Berita ini juga disiarkan beberapa kali oleh SCTV.

Kepada TEMPO, Haris sendiri membantah dia orang BIN. Demikian pula Muchyar Yara, yang mendukung pernyataan Haris dalam soal itu. Tapi, Yara mengatakan Haris adalah kawan lama Hendropriyono –sebuah fakta yang membuat kalangan Majelis Mujahidin bisa saja memiliki alasan untuk curiga.

Maklumlah, ada bebacapa "kebetulan" yang menyusahkan organisasi itu. Abdul Haris menghilang dari pertemuan dan kegiatan Majelis Mujahidin bersamaan dengan hilangnya Faruq. Ihwal menghilangnya Haris sebenarnya disadari oleh aktivis MMI. "Sudah sekitar enam bulan Haris tidak aktif. Kami memang mendapat kabar bahwa dia seorang agen yang disusupkan, tapi kami tidak gegabah mempercayainya sebelum diklarifikasi,"ujar Irfan S Awwas, Ketua Tanfidziyah MMI.

Sementara itu, Faruq, yang ternyata disetor kepada CIA, kini menyanyikan pengakuan yang menyudutkan Ba'asyir dan membuatnya ditahan polisi. "Haris itu orangnya baik dan humanis, tapi saya tak mengira dia itu munafik," kata Elang Lesmana Ibrahim, seorang aktivis Islam dari Bandung, yang beberapa kali bertemu Haris (lihat Donnie Brasco dari Ciputat).

Sejarah intelijen Indonesia memang mencatat kelompok-kelompok radikal Islam, sebagai salah satu "kerikil dalam sepatu" yang terus-menerus ada. Dan bukan hal baru kalangan intelijen menanam agennya ke organisasi Islam dengan tujuan melumpuhkannya. "Sejak masa Orde Baru, kelompok Islam selalu dipermainkan," kata Daniel Lev. "Dari sudut pandang intelijen seperti BIN –dulu Bakin-- orang-orang radikal Islam berguna sekali karena gampang digerakkan dan dipakai."

Hendropriyono sendiri bukan sekali ini bersilangan riwayat hidupnya dengan gerakan radikal Islam. Pada akhir dasawarsa 1980, ketika masih menjadi Komandan Korem di Lampung, dia memimpin operasi menumpas Gerakan Warsidi sebuah kelompok yang dituduh ingin mendirikan negara Islam. Darah tumpah di situ, dan Human Rights Watch menyebutnya sebagai "The Butcher of Lampung".

Kini, Hendropriyono, yang belakangan ini dikenal akrab dengan sejumlah tokoh Islam, bukan lagi tentara lapangan. Dia memimpin BIN, lembaga intelijen yang belakangan ini memperoleh kekuasaan besar setelah keluarnya Perpu Anti- terorisme pada 18 Oktober lalu.

Hendropriyono tak bersedia memenuhi permintaan wawancara TEMPO. Muchyar Yara, yang diminta mewakilinya, menolak tuduhan BIN atau Hendropriyono menanam Haris untuk menjaring Ba'asyir. “Tapi, jika benar Haris orang BIN, apakah itu sesuatu yang salah?" kata Muchyar. "Bukankah yang dimata-matai itu orang asing yang bikin kekacauan, di Poso, Ambon, dan sebagainya?" (lihat "Haris Teman Lama Hendro")

Al-Faruq yang dimata-matai bisa saja orang asing. Dan Al-Faruq, melalui sebuah rekaman video yang diperoleh BIN, barangkali benar pemah melatih orang-orang Islam dalam sebuah kamp di Poso. Tapi, Ba'asyir adalah warga negara Indonesia yang sudah terkena getah dari pengakuan Al-Faruq di depan CIA.

Ini bahkan bukan sekadar nasib seorang Ba'asyir yang tudingan terhadapnya masih harus dibuktikan di pengadilan kelak. Ini menyangkut hendak dikemanakan badan intelijen Indonesia.

Beberapa hari setelah ledakan dahsyat di Legian, Bali, pemerintahan Megawati mengeluarkan peraturan pemerintah tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Peraturan itu memberikan peran lebih besar lagi kepada Kepala BIN, yang pada pemerintahan Megawati memiliki posisi setara menteri kabinet. Dan kini, setelah Bali, Megawati memberi BIN wewenang untuk melakukan koordinasi atas semua badan intelijen yang ada di berbagai departemen dan kepolisian.

Posisi BIN juga bisa lebih kuat lagi mengingat data intelijen yang dijaring melalui kegiatan mata-mata, seperti penyadapan dan penyusupan, kini bisa diterima sebagai alat untuk menahan seorang tersangka teroris, meskipun keabsahan data itu harus diuji oleh pengadilan.

Setelah serangan teror di Bali, meski semula enggan, Indonesia akhirnya harus terlibat dalam barisan perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika. Banyak negara lain juga melakukannya dengan, antara lain, mengadopsi undang-undang anti-terorisme. Namun, seperti dilaporkan Human Rights Watch awal tahun ini, "perang melawan terorisme" ternyata banyak pula disalahgunakan oleh rezim- rezim otoriter untuk menindas oposisi dan para pengkritik.

Membuat badan intelijen yang punya akuntabilitas adalah salah satu cara menghindari ekses seperti itu.
(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)

Donnie Brasco dari Ciputat
Badan Intelijen Negara diduga kuat "menanam" seorang intelnya dalam Majelis Mujahidin Indonesia yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir. Berikut ini kisah penyusupan itu.

HUJAN jatuh di kawasan Ciputat, Tangerang, dan lelaki itu baru saja hendak meninggalkan rumah. "Anda perlu dengan saya? Boleh, tapi sebentar saja, ya," katanya. Ia sungguh santun. Badannya sedikit besar. Kulitnya putih. Di keningnya membayang titik hitam tanda bekas su]ud. Sore itu ia mengenakan songkok berwarna gelap dan baju takwa berkelir cokelat. Tak jauh dari tempat ia berdiri, tampak dua orang perempuan berjilbab: yang seorang istrinya dan yang seorang lagi anak gadisnya. Di luar rumah, sebuah mobil Kia Visto siap berangkat. "Sebetulnya kami sudah ada acara di tempat lain," katanya.

Di teras rumah yang lumayan besar, ia bercerita tentang dirinya. Seorang lelaki biasa yang sepintas tak istimewa. Muhammad Abdul Haris, 50 tahun: seorang pengurus Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang mencari nafkah sebagai guru dan pekerja swasta. Adapun MMI adalah organisasi Islam yang diketuai Abu Bakar Ba'asyir ustad pemimpin Pesantren Ngruki, yang menjadi sorotan karena dituding menjadi simpul terorisme di Indonesia.

Lebih dari sekadar aktivis, setengah tahun terakhir Haris menjadi bahan gunjingan di kalangan penggiat organisasi massa Islam. Tamsil Linrung, pengurus Partai Amanat Nasional yang pernah ditahan di Filipina karena tuduhan membawa bom misalnya, mencurigai dia sebagai intel BIN.

Tak cuma menyusup ke MMI, Haris menjadi kunci bagi tertangkapnya Umar al-Faruq, yang kini menjadi tahanan AS karena dituduh memimpin jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Haris pula yang mengantar tim investigasi polisi yang mewawancarai Faruq di Afganistan, setelah majalah Time menulis berita tentang Faruq pada September lalu. Meski mati-matian dibantah Haris dan BIN, peran Abdul Haris ini diakui oleh Kepala Kepolisian RI sendiri. “Tim investigasi itu terdiri atas Brigadir Jenderal Polisi Aryanto Sutadi, Komisaris Besar Polisi Benny Mamoto, dan anggota Badan Intelijen Negara Abdul Haris," kata Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar seperti dikutip situs Liputan6.com, 17 Oktober 2002.

Meski tak persis benar, kisah penyamaran Haris mirip dengan cerita polisi yang menyusup ke sarang mafia Italia dalam film Donnie Brasco: sempurna, tak terlacak, dan baru disadari ketika semuanya berakhir. Dan Haris, sang Brasco dari Ciputat, memulainya pada 1995. Ketika itu, ia bertemu dengan Irfan S. Awwas orang yang belakangan menjadi salah satu Ketua MMI di rumah seorang dai di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Haris meyakinkan: bahasa Arabnya bagus dan ia memahami masalah agama dengan baik.

Seperti Irfan, Haris memimpikan syariat Islam tegak di Indonesia. Setelah pertemuan itu, mereka sering bertemu. Ketika Majelis Mujahidin didirikan melalui kongres pertamanya, 5-7 Agustus 2000, Abdul Haris langsung dipercaya menjadi pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid (Qism 'Alaqatul Mujahidin). Ini posisi penting karena "di sini diatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan luar negeri," kata seorang pengurus MMI.

Selama di MMI, Haris menjadi pusat infonnasi. Ia kerap menyerahkan catatan yang disebutnya sebagai info intelijen mengenai kasus Maluku dan Poso. Ia juga mengetahui aktivis Islam Indonesia yang pernah ikut berperang di Afganistan. Meski aktif, anehnya, Haris selalu menghindar jika difoto. Karena itu, dalam dokumentasi MMI, gambar Haris tak pernah ada.

Tak hanya di MMI, ia berkeliling ke aktivis Islam lain. Di Bandung, Abdul Haris mendatangi Lesmana Ibrahim, pensiunan mayor angkatan laut yang mengelola sebuah taman kanak-kanak Islam. Lesmana adalah kawan baik almarhum Haris Fadilah alias Abu Dzar, mertua Al-Faruq. "Saya mengenal dia karena diperkenalkan seorang kawan," kata Lesmana. Di rumah pria itu, Haris menginap dan berbincang tentang gerakan Islam. "Salah satu hal yang dibahas adalah soal Amerika, Israel, dan. terjepitnya muslim Palestina," kata Lesmana Ibrahim.

Beberapa bulan setelah perternuan itu, Haris datang lagi. Kali ini ia meminta Lesmana menandatangani pernyataan sikap yang intinya mendukung diberlakukannya Piagam Jakarta. Tapi Lesmana menolak. Sampai di sini, baik Lesmana maupun orang-orang MMI tak ada yang curiga kepada Abdul Haris. Kecurigaan baru muncul ketika sejak Juni lalu Haris tiba-tiba menghilang dari komunitas gerakan Islam.

Juni lalu? Itulah saat Faruq ditangkap intelijen BIN di Bogor, Jawa Barat. Dalam keterangan resminya, BIN mengaku penangkapan dilakukan karena Faruq punya masalah keimigrasian. Ketika ditangkap, pria itu sedang bersama Haris. Saat itu Haris sedang mengantar paspor milik istri Faruq, Mira Agustina. Kepada TEMPO, Haris mengaku hanya membantu membuatkan paspor untuk Mira. Dia mengaku mengenal Faruq, tapi membantah keras bahwa dia memata-matai tokoh itu (lihat Abdul Haris:"Saya Orang Swasta Murni").

Tapi ada cerita lain dari Tamsil Linrung. Menurut Tamsil, nama Abdul Haris sebetulnya sudah muncul ketika ia ditahan pemerintah Filipina awal 2002 lalu. Ketika itu, seorang intel Filipina bernama Rueben P. Galban berkali-kali mengaku bahwa informasi tentang Tamsil dan Agus Dwikarna mereka peroleh dari intel Indonesia. "BIN dibantu oleh orang Indonesia yang bernama Abdul Haris," kata Galban seperti ditirukan Tamsil.

Galban adalah perwira polisi berpangkat super-intenden dan merupakan kepala bidang penghubung intelijen asing dalam badan kepolisian Filipina. Galban bahkan menjelaskan sepak terjang Haris, termasuk sejarah kedekatan Haris dengan Faruq. "Ia dikenalkan dengan Faruq oleh seseorang bernama Syawal," kata Tamsil mengutip Galban.

Terkesan kaget, ketika dikonfirmasi, Galban membantah cerita Tamsil Linrung. "BIN tidak memberikan informasi kepada kami. Maaf, ya, sekarang saya amat sibuk," katanya. Lalu, klik, telepon ditutup. Belakangan, Galban bersedia menjawab lebih panjang. "Informasi

yang saya bicarakan dengan Tamsil itu saya ketahui dari media massa, bukan informasi intelijen," ujarnya kepada TEMPO melalui telepon internasional.

Sepulang Tamsil dari Filipina, Haris mengontaknya. Dalam sebuah pertemuan, Haris mengatakan bahwa penangkapan Tamsil terjadi karena ada "seseorang" yang melaporkan ke BIN. Haris juga mengaku mendapatkan banyak mfo tentang gerak-gerik aktivis Islam lainnya seperti Agus Dwikarna dan Fathur Rahman al-Ghozi dari badan intelijen itu. "Ia mengaku membaca kertas yang tercecer ketika sedang memasang karpet di kantor BIN, " kata Tamsil. Kepada TEMPO, Haris mengaku pernah mendapat proyek pengadaan karpet dari BIN.

Kecurigaan Tamsil terbit. Demikian pula tokoh lain yang pernah ditemui Haris. Tapi, seperti dalam Donnie Brasco, semua telah terlambat. "Ia pernah menelepon saya dan mengatakan merasa tidak enak karena sedang bersama Faruq saat Faruq ditangkap," kata Lesmana Ibrahim. "Saya tidak menyangka kalau dia munafik begitu. Saya akui dia baik dan humanis. Karena itu, sungguh saya tidak menyangka," kata Irfan S. Awwas.

Siapakah Haris sesungguhnya? Muhammad Abdul Haris adalah lelaki kelahiran Desa Rowobayem, Purworejo, 8 Mei 1952. Ia pernah kuliah di Jurusan Fikih Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan lulus pada 13 Juli 1977. Skripsinya membahas asas legalitas hukum pidana di Indonesia.

Bapak dua anak ini pada 1989-1991 memperdalam bahasa Arab di Riyadh, Arab Saudi. Ia mengaku belajar di Jamiah Malik as-Suud, sebuah universitas di sana. Menurut Hamdi el-Faragh, yang pernah mengajarnya, Haris termasuk mahasiswa yang pintar. Ia menonjol dalam analisis maddah (materi), nahwu-sharaf (tata bahasa), dirasah Islamiyah (studi Islam), serta mata pelajaran ta'bir kitabi dan syafahy (pengungkapan bahasa Arab lisan dan tulisan). Hamdi mengaku mengenal Haris karena ia biasa mengabsen mahasiswa yang ada. Soal dana, Haris mengaku mendapat beasiswa dari pemerintah Arab Saudi.

Tapi penelusuran TEMPO menunjukkan Haris bukan mahasiswa biasa. Seorang sumber BIN sendiri memastikan, di Arab Saudi, Haris dibiayai lembaga intelijen itu. Menurut sumber itu, Haris telah "dipelihara" sejak 15 tahun lalu. Tentang beasiswa pemerintah Arab Saudi kepada Haris, Hamdi el-Faragh membantah, "Dia tidak dibiayai pemerintah Arab Saudi. Ada seorang kafil (penyumbang dana) tetap baginya dari Indonesia, tapi saya tidak tahu siapa." Detail lain dikemukakan Hamdi: "Hanya mahasiswa yang belajar empat tahun (program gelar -Red.) yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Arab Saudi. Sedangkan Abdul Haris hanya belajar dua tahun dalam program non-gelar."

Lalu apa motivasi Haris? Tak jelas. Seorang aktivis MMI mencurigai Haris mendapat uang dari BIN karena aksinya tersebut. Tapi sulit memastikannya. Rumah Haris di bilangan Ciputat memang bagus --setidaknya bila dibandingkan dengan tetangga sekitarnya-- tapi

tak ada bukti yang lebih kuat. BIN membantah telah memelihara Haris (lihatwawancara MuchyarYara).

Haris sendiri kini menghilang. Setelah pertemuan dengan TEMPO di sebuah sore yang basah itu, telepon genggam Haris masih bisa dihubungi beberapa kali. Tapi, setelah itu, ia menghilang. Seperti Donnie Brasco, tugasnya telah usai.

(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)

Abdul Haris: "Saya Orang Swasta Murni"
DARI mana Anda kenal keluarga Al-Faruq?
Kebetulan saya kenal paman Mira (Mira Agustina, istri Al-Faruq -Red.). Namanya Muhabbah. Dia pedagang bakso di Bogor. Kami pernah beberapa kali bertemu. Dengan Faruq, saya bertemu pas mengurus paspor Mbak Mira.

Mengapa Anda sampai tertangkap bersama Al-Faruq di Masjid Raya Bogor?[
Saya berjanji bertemu untuk menyerahkan paspor Mira kepada Faruq karena Mira waktu itu ada di Tanjung Pinang. Cuma, saya sayangkan, sebelum saya menyerahkan paspor itu, rupanya Faruq sudah merasa kalau sedang dicari. Cuma dia tidak berceritera, akhirnya saya ikut kena getahnya. Kalau tahu begitu, saya serahkan saja paspor itu ke pamannya Mira.

Bagaimana kronologinya?
Saat itu sekitar tanggal 5 Juni. Fauq meminta paspor itu dibawa ke Rawamangun. Belum satu jam, dia menelepon saya dan minta saya mengantarkannya ke bandara. Baru saya mau meluncur ke sana, dia meralat lagi. Sudah, kalau begitu ditunggu saja di Masjid Raya Bogor. Jadi, dia yang menentukan tempat, saya hanya mengikuti. Saya heran, mau menyerahkan paspor istrinya kok minta tempat ketemunya berpindah-pindah dan tidak berani datang ke imigrasi langsung. Saya menduga dia sudah tahu dirinya diikuti terus sejak awal.

Akhirnya Anda berdua bertemu di Bogor?
Ya, di Masjid Raya Bogor selepas salat asar. Ketika kami sedang mengobrol, datang beberapa orang mau menangkap Faruq. Mereka mengaku dari imigrasi dan tidak bersenjata.

Berapa jumlah mereka?
Saya tidak tahu persis. Peristiwanya cepat sekali. Mereka bilang Faruq ditangkap karena memalsukan paspor. Kami langsung diborgol dan dibawa dengan mobil terpisah. Mata saya ditutup selama perjalanan hingga masuk ke sebuah ruangan selama kurang-lebih satu jam. Waktu itu pakai mobil Kijang. Celakanya, waktu itu Faruq membawa uang Rp 27 juta sehingga saya dikenai tuduhan menjual paspor sangat mahal. Padahal, perjanjian kami, saya mendapat upah sekitar satu juta rupiah.

Berapa lama Anda ditahan?
Saya ditahan selama dua malam satu hari, dan diperiksa terpisah dengan Faruq. Perternuan terakhir kami ya ketika mengobiol di masjid sebelum ditangkap.

Apa saja yang mereka tanyaban kepada Anda?
Soal perkenalan dengan Faruq. Saya bilang hanya membantu membuatkan paspor istrinya, Mira. Lalu dicek silang dengan Faruq. Untunglah Faruq melindungi saya karena dia tidak omong macam-macam, misalnya saya ini orang MMI, Majelis Mujahidin Indonesia. (Keputusan Kongres I MMI pada 5-7 Agustus 2000 menetapkan Abdul Haris sebagai anggota Departemen Hubungan Antar-Mujahid -Red.)

Kalau urusannya sama-sama cuma soal paspor, kok Anda kemudian dilepas dan Faruq terus ditahan?
Mereka yakin bahwa saya hanya orang yang mencari duit.

Anda ikut tim Mabes Polri ketika menginterogasi Al-Faruq?
Saya heran dikait-kaitkan dengan itu. Nama Abdul Haris kan banyak sekali, tapi yang jelas bukan saya. Saya sendiri kan bukan siapa-siapa, ha-ha-ha.

Anda kan fasih berbahasa Arab dan kenal Al-Faruq?
Bahasa Arab saya kurang begitu bagus.

Faruq itu warga negara Indonesia atau asing?
Kalau saya perhatikan sih bukan. Kosakata Indonesia-nya sedikit sekali dan patah-patah. Kami berkomunikasi dalam bahasa Arab.

Kami mendapat informasi, Anda memperoleh proyek pemasangan karpet dan gorden di kantor Badan Intelijen Nasional?
Saya memang pernah mendapat proyek pengerjaan karpet di BIN.

Ini informasi lain yang kami peroleh: Anda pernah menyodorkan daftar nama orang yang dicari dan bakal ditangkap BIN kepada Hendro?.
Masya Allah, saya ini orang swasta murni. Hidup saya kan dari satu kontrak ke kontrak lainnya. Kok informasinya aneh-aneh begitu? Tidak, tidak pernah saya melakukan hal itu.

Anda belajar di Riyadh selama dua tahun (1989-1991). Kami mendapat informasi Anda dibiayai Badan Intelijen Negara (ketiba itu Bakin)?
Ha-ha-ha, isunya kok aneh-aneh begitu. Beasiswa saya dari pemerintah Arab Saudi. Teman-teman seangkatan saya banyak. Ada yang dari Yayasan Al-Masturiah, ada juga yang dari Muhammadiyah. Jadi, beasiswa itu memang untuk banyak orang.

Kabar itu muncul karena beberapa kalangan orang mencurigai Anda orang BIN yang ditanam di MMI?
Saya orang swasta murni. Istri saya seorang guru. Saya hidup dari kontrakan.

Apakah Anda mendapat mobil Kia Carnival dari BIN karena sukses membantu penangkapan Faruq?
Masya Allah, kejam sekali informasinya. Tanya saja ke Irfan Awwas (Ketua Umum MMI), kapan saya punya mobil dan jenisnya.

===

(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)

Dasamuka yang Gemar Menyaru
SEBAGAI sosok yang begitu penting, Umar al-Faruq sama membingungkannya seperti tokoh dunia pewayangan Dasamuka --sang raksasa yang memiliki banyak wajah. Oleh kalangan intelijen, khususnya Badan Intelijen Negara (BIN) dan Dinas Rahasia Amerika (CIA), dia. diyakini bagai operator Al-Qaidah di Indonesia. CIA secara khusus menyebut tokoh ini mengakui terlibat dalam berbagai peledakan bom di Indonesia dan ikut serta dalam plot membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri. Berdasar pengakuan Al-Faruq itu pula polisi belakangan menangkap Abu Bakar Ba'asyir, tokoh yang disebutnya memberikan perintah melakukan semua kejahatan tadi.

Namun penelusuran TEMPO menunjukkan: sejumlah orang yang dipercaya mengenal Al-Faruq --sebagian di antaranya adalah sumber resmi—terbukti tidak sependapat tentang detail dari riwayat hidupnya. Kapan dan di manakah dia dilahirkan? Benarkah dia tidak bisa berbahasa Indonesia? Kenapa dia bisa memiliki tiga KTP di kota berbeda? Apa sebenarnya aktivitas dia sehari-hari?

Banyak pertanyaan itu hanya akan terjawab jika saja aparat Indonesia tidak menyerahkan Al-Faruq kepemerintah AS. Dan kini, andai Al-Faruq bisa dihadirkan, semua kesaksian yang bertabrakan di bawah ini bisa dijelaskan.

Dinas Rahasia Amerika (CIA)Al-Faruq ditangkap di Indonesia 5 Juni lalu dan diserahkan kepada CIA untuk diinterogasi. Setelah berdiam tiga bulan, menurut dokumen CIA yang dikutip majalah Time, Al-Faruq buka mulut seperti ini.


--Lahir di Kuwait, 24 Mei 1971.

--Dikenal dengan nama Al-Faruq al-Kuwaiti.

--Tokoh kunci Al-Qaidah di Asia Tenggara.

--Berperan membekingi dana gerakan Jamaah Islamiyah yang tokohnya menjadi incaran di Malaysia dan Singapura.

--Seiak 1990-an mengikuti latihan Al-Qaidah di kamp Khaldan, Afganistan.

--Kenal dekat dengan pemimpin kamp, Al-Mughira al-Gaza'iri., dan tangan kanan Usamah bin Ladin, Abu Zubaidah. Dia juga mengaku kenal dengan Ibn Al-Shakyl al-Libi, yang kata dia pernah memerintahkan serangan ke pusat-pusat kepentingan Amerika di Asia Tenggara.

--Pergi ke Filipina Selatan dan membantu MILF (Front Pembebasan Islam Moro) serta tinggal di kamp Abu Bakar pada 1995.

--Membantu Agus Dwikarna (sekarang di tahanan Filipina karena dituduh membawa peledak saat masuk Filipina) melahirkan Lasykar Jundullah, kelompok Islam militan Makassar yang terlibat dalam kekerasan melawan warga Kristen di Poso, Sulawesi.

--Mendalangi sejumlah aksi peledakan gereja di Indonesia pada malam Natal 2000.

--Mendalangi kerusuhan antar-agama di Poso dan Ambon.

--Merencanakan penyerangan bom bunuh diri terhadap kapal perang Amerika yang berlabuh di Surabaya, akhir Mei lalu.

--Dua kali merencanakan membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kepolisian RI
Pada 11 Oktober setelah memperoleh izin dari C1A, Kepolisian Republik Indonesia mengirim tim yang beranggotakan Superintenden Benny Mamoto dan Brigjen Aryanto Sutadi (Direktur Tindak Pidana Umum Markas Besar Polri) untuk menginterogasi Al-Faruq di Kabul, Afganistan.

Seperti kita baca dari berita acara pemeriksaan Abu Bakar Ba'asyir, interogasi terhadap Al-Faruq dilakukan dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Para interogator Indonesia banya mengumpankan 35 pertanyaan yang dijawab Al-Faruq dengan "yes" atau "no". Al-Faruq hanya sekali menjawab "no", yakni ketika dia ditanya apakah merasa dipaksa dalam interogasi, dan dia menjawab semua pertanyaan di bawah ini dengan "yes".


--Apakah nama Anda Ahmad Muhammad alias Faruq al-Kuwaiti alias Mahmud bin Ahmed Muhammed Sagaf alias Umar Faruq?

--Anda memakai nama Mahmud bin Ahmad Assegaf ketika berada di Indonesia?

--Apakah Anda lahir di Irak?

--Apakah Anda warga negara Kuwait?

--Anda masuk ke Indonesia sejak 1998 dari Filipina?

--Anda memimpin Koperasi "Rashid" di Ambon, yang dibiayai oleh Al-Moudi, Direktur Yayasan Al-Haramayn di Indonesia?

--Anda bertemu Abu Bakar Ba'asyir di Ambon ketika Anda memimpin koperasi itu?

--Anda menerima uang dan tiket dari Abu Zubaidah untuk pergi dari Peshawar (Pakistan) ke Filipina?

--Anda berencana menyerang kepentingan Amerika di Indonesia?

--Benarkah Abu Bakar Ba'asyir merestui serangan ke Kedutaan Besar Amerika di Jakarta?

--Benarkah Abu Bakar Ba'asyir merestui menggunakan anggota Jamaah Islamiyah untuk menyerang kepentingan Amerika di Asia Tenggara?

--Benarkah ikut merencanakan peledakan bom di sejumlah gereja pada malam Natal 2000?




Mira Agustina
Perempuan bercadar ini menikah dengan Al-Faruq pada 26 Juli 1999. Mira, santri Pondok Al-Muttaqien, Jepara, Jawa Tengah, dijodohkan oleh ayahnya (almarhum), Haris Fadillah. Bersama dua anaknnya dari perkawinannya dengan Al-Faruq, Mira kini tinggal di Desa Cijambu, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Majalah Time yang mengutip dokumen CIA menunjuk Mira dari Cijeruk itulah istri dari Al-Faruq yang kini ditawan di Baghram, pangkalan Amerika di Afganistan. Namun, ketika ditunjukkan fotokopi gambar Al-Faruq, Mira sendiri mengatakan "tidak mengenalnya".


Inilah Al-Faruq versi Mira.

--Bernama asli Mahmud bin Ahmad Assegaf, namun sering dipanggil Abu Faruq.

--Seorang keturunan Arab yang lahir di Ambon, 24 Mei 1971.

--Fasih berbahasa Indonesia dengan logat Ambon.

--Semua keluarga sudah meninggal, dan Faruq punya ayah angkat di Kuwait yang juga sudah meninggal.

--Sehari-hari berdagang mutiara dan kayu gaharu.

--Senang menonton televisi, terutama film laga dan program flora-fauna.

--Tidak mengenakan pakaian gamis ala Islam ketika keluar rumah sehari-hari.



Dody M. Wibowo
Kepala Imigrasi Kelas I Makassar ini pejabat yang bertanggung jawab saat Al-Faruq mengajukan aplikasi paspor. Menurut Dody, Al-Faruq ditangkap dan dikarantina di Makassar karena bersikap mencurigakan: tidak bisa berbahasa Indonesia.


Inilah AI-Faruq versi Dody.

--Al-Faruq mengajukan permohonan paspor dengan nama Faruq Ahmad.

--Memiliki akta kelahiran dengan nama Faruq Ahmad, lahir di Ujung Pandang (nama lama Makassar), 10 Desember 1966.

--Memegang KTP Makassar dengan nomor 21.5005.101266.0001, yang berlaku dari 8 Februari 1999 hingga 10 Desember 2002.

--Tinggal di Makassar dari 8 Februari 1998 hingga Februari 1999 di Jalan Veteran Selatan Lorong 2/2A.

(Warga setempat yang diwawancarai TEMPO mengatakan tidak mengenal nama Faruq, dan menyatakan tidak pernah ada pria yang menyewa rumah tersebut.)

--Kepada petugas imigrasi, Faruq mengaku datang dari Pakistan dan masuk ke Malaysia, kemudian ke Indonesia. Saat di Malaysia, Faruq kehilangan paspor Pakistan. Dia masuk Indonesia secara ilegal pada Februari 1998, untuk berdakwah sebagai mubalig.



Kantor Wali Kota Ambon

Al-Faruq pernah tinggal di Ambon. Dokumen dari kantor ini mendukung kesaksian Mira, bahwa Al-Faruq:

--Bernama Mahmud bin Ahmad Assegaf, lahir di Ambon, 24 Mei 1971.

--Memiliki KTP Ambon nomor 25.5002.240571.0001.

--Alamat di BTN Kebun Cengkeh Blok 04 no 2 RT 004/RW 005, Batu Merah, Sirimau, Ambon. (Dari penelusuran TEMPO, tidak banyak tetangga yang mau bercerita tentang Al-Faruq, tapi ada seorang tokoh muda muslim yang menyatakan Al-Faruq sering berdakwah di masjid-masjid, membangkitkan semangat solidaritas keislaman di Maluku.)

Ayi Nugraha

Kepala Sub-Direktorat Penindakan Keimigrasian Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Kehakiman. Ayi menunjukkan fotokopi paspor dan KTP Al-Faruq dengan alamat Jakarta:

--Kantor imigrasi Jakarta Timur mengeluarkan paspor Al-Faruq 27 Februari 2002 atas nama Ahmad Assegaf dengan foto Al-Faruq seperti yang diberitakan media.

--Dia membawa KTP nomor 09.5401.240571.85277 dengan alamat RT 03/RW 07, Kelurahan Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur.



Ali Al-Dafiri

Kuasa usaha Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta ini memberikan dua keterangan berbeda tentang kewarganegaraan Al-Faruq.

--Al-Faruq memiliki paspor Irak dan lahir 1969 dengan nama Mahmud Ahmad Muhammad Al-Rasyid.

--Dia masuk ke Kuwait pada 1985 dan bekerja di sana hingga meninggalkan Kuwait tahun 1995. (Namun ketika dihubungi TEMPO lagi pekan lalu, Al-Dafiri menyatakan Faruq lahir di Kuwait dan meninggalkan Kuwait pada 1995.)

--Sebagian keluarganya masih di Kuwait, namun tetap bukan warga negara Kuwait.(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)




Misteri Hari Terakhir
Kata BIN, Al-Faruq dideportasi karena paspor palsu. Tapi banyak kejanggalan seputar penangkapannya.

SELEPAS asar pada 5 Juni 2002 lalu, terjadi keributan kecil di halaman Masjid Raya Bogor. Namun keramaian di Jalan Pajajaran di depan masjid, dan keriuhan di terminal Bogor yang tak jauh dari situ, membuat orang tampaknya tidak terlalu hirau ketika sekitar 10 orang mengepung dua orang di masjid itu dan meringkusnya.

Itulah hari ketika Mahmud bin Ahmad Assegaf raib. Tiga bulan kemudian, tokoh tak dikenal itu kali ini muncul dengan nama Umar al-Faruq menjadi pusat pembicaraan sebagai "tokoh" Al-Qaidah yang menyusup ke Indonesia.

Apa yang sebenarnya terjadi pada awal juni itu?

"Saya bertemu Al-Faruq di masjid itu ketika mereka menangkap kami," kata Abdul Haris, orang yang ditangkap bersama Al-Faruq dalam penggerebekan kilat itu, kepada TEMPO via telepon dua pekan lalu. Haris membantu menguruskan paspor Mira Agustina, istri Al-Faruq, yang berencana pergi bersama suami dan dua anaknya ke Selangor, Malaysia. Haris berjanji menyerahkan paspor hari itu.

Sebelum pertemuan, Haris mengaku sempat berbicara lewat telepon genggam dengan Al-Faruq. Dalam teleponnya yang pertama, kata Haris, terdengar suara Al-Faruq dengan nada gelisah dan ragu. Ia minta Haris datang ke Rawamangun bersama paspor pesanan itu. Tapi, kata Haris, tak sampai sejam kemudian Al-Faruq menelepon lagi untuk minta bertemu di Bandar Udara Cengkareng, sekalian menjemput kawannya yang tiba dari luar negeri. Belum sempat Haris meluncur, Faruq menelepon lagi. "Tunggu saja di Masjid Raya Bogor," begitu ucapan Haris menirukan Al-Faruq. Bersama Mira dan dua anaknya, Al-Faruq memang tinggal di Cijeruk, Bogor.

Pembicaraan telepon itu mengesankan Al-Faruq gelisah karena mencium ada yang tak beres hari itu tapi tak tahu di mana dan kapan bahaya akan menerkamnya.

Firasataya benar. Selepas salat asar, mereka sempat mengobrol dalam bahasa Arab di beranda masjid. Nahas, ketika itulah serombongan orang datang menangkap mereka. Al-Faruq, kata Haris, ditangkap dengan tuduhan memalsukan paspor. Haris, yang berada di sampingnya, kena getah ikut diciduk.

Dalam ingatan Haris, penangkapan itu berlangsung cepat. "Tahu-tahu tangan kami sudah diborgol," tuturnya. Haris dimasukkan ke mobil Toyota Kijang, lalu kedua matanya ditutup. Faruq digelandang ke mobil terpisah. Mereka berputar-putar di Kota Bogor hampir sejam dan tiba-tiba saja berhenti. Menurut Haris, mereka berdua disekap dalam sebuah rumah tinggal. "Saya sulit mengingat di mana lokasi rumah itu karena pusing setelah mata ditutup," katanya. Dua hari kemudian Haris dibebaskan dan sejak itu tak pernah sekalipun ia bertemu lagi dengan Al-Faruq.

Siapa menangkap Al-Faruq? Benarkah Al-Faruq ditangkap aparat imigrasi atau polisi karena pemalsuan paspor? Kantor Departemen Kehakiman di Jakarta mengaku tidak tahu-menahu penangkapan itu. "Kami tak mengirim tim ke Bogor," kata Ade Dachlan, juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi. Polisi pun mengatakan tak terlibat dalam penangkapan itu.

Muchyar Yara, Asisten Kepala Bidang Sosial dan Kemasyarakatan Badan Intelijen Negara (BIN), mengatakan penangkapan itu dipimpin oleh Mayor Andika Perkasa, perwira pasukan elite Kopassus yang diperbantukan dalam operasi BIN. Andika sendiri adalah menantu Letnan Jenderal A.M. Hendropriyono, ketua badan intelijen itu.

"Penangkapan itu memang kami yang mengarahkan," kata Muchyar kepada TEMPO pekan lalu. "Kami memperoleh informasi awal dari intelijen Filipina, Singapura, dan Amerika bahwa ada orang asing di kampung (Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Bogor) yang terlibat dalam jaringan terorisme," tutur Muchyar. (Lihat wawancara dengan Muchyar Yara: "Haris Teman Lama Hendro")

Namun, bukannya diadili di Indonesia, tiga hari setelah ditangkap Al-Faruq dibawa ke Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, tempat ia diterbangkan dengan sebuah pesawat khusus ke Amerika. Sebuah sumber TEMPO mengatakan, BIN-lah yang mencap paspor Faruq dengan cap kedatangan Malaysia agar berkesan ia telah dideportasi ke negara itu, dan menghindari kesan BIN telah menyerahkan Al-Faruq kepada Amerika.

Beberapa hari setelah penangkapan di Masjid Raya Bogor itu, Mira Agustina mengaku menerima telepon dari Haris, yang bercerita perihal penangkapan suaminya tanpa penjelasan rinci. Belakangan Mira mengatakan kehilangan kontak dengan Haris, yang memintanya tidak lagi menelepon "karena ditekan oleh orang-orang yang menangkapnya".

Sejak itu pula Mira tak tahu ke mana gerangan suaminya pergi, sampai September lalu ketika pengakuan Al-Faruq diangkat menjadi laporan utama majalah Time.(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)

Jejak Seluler Meringkus Faruq
UMAR al-Faruq dicokok gara-gara telepon seluler. Sebab, telepon genggamnya itu justru menjadi petunjuk bagi intelijen. Untuk melacak di mana saja dia berada dan siapa saja yang ia kontak. Nomor teleponnya, 08129576852, justru menebar di sejumlah ponsel orang-orang yang ditangkap oleh aparat keamanan di sejumlah negara. Menurut Muchyar Yara, Asisten Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Bidang Hubungan Masyarakat, nomor telepon Faruq tertera di ponsel Agus Dwikarna yang ditangkap di Filipina, dan Parlindungan Siregar yang ditangkap di Spanyol, April lalu.

Keterangan Muchyar sama dengan laporan majalah Time yang mengutip investigasi CIA, November lalu. Menurut majalah terkemuka di dunia itu, nomor ponsel Faruq juga tercatat di telepon seluler Ibn al-Khattab, seorang komandan tentara Chechnya yang sudah ditangkap Rusia. Ada pula dalam hand phone Abu Zubaydah, tangan kanan Usamah bin Ladin, dan seorang Taliban yang ditahan di Penjara X Ray di Guantanamo Kuba. Agus Dwikarna membantah soal ponsel ini. "Saya tidak pernah kontak dengan orang di Bogor,” kata Agus kepada TEMPO.

Berdasarkan lalu lintas telepon itulah, kata Muchyar, kediaman Faruq dilacak.

1. Spanyol-Bogor
Parlindungan Siregar seorang warga Indonesia ditangkap polisi Spanyol dengan tuduhan anggota jaringan teroris. Di ponsel Parlindungan tercatat nomor ponsel Umar al-Faruq. Saat di tahanan, Parlindungan diperkenankan membawa ponselnya itu. Selama di tahanan, ia konon sempat beberapa kali menelepon Al-Faruq lewat handphone. Pembicaraannya direkam oleh polisi Spanyol. Informasi soal halo-halo itu juga dikirim ke intelijen Indonesia.

2. Bogor-Spanyol
Saat di tahanan itu beberapa kali ponsel Parlindungan menerima telepon dari sebuah wartel di kawasan Bogor, Jawa Barat. Diduga, wartel tersebut terletak tak jauh dari rumah Al-Faruq.

3. Manila-Bogor
Awal Juni lalu, polisi Filipina menangkap Agus Dwikarna, pemimpin Laskar Jundullah, yang disebut- sebut tertangkap basah membawa bahan peledak di kopornya. Di selnya, Agus membawa serta telepon

seluler miliknya. Selama berada di sel itulah, kata Muchyar, Agus beberapa kali menelepon Al-Faruq melalui ponsel. Tapi Agus Dwikarna membantah.

4. Bogor-Manila
Sebuah ponsel dari kawasan Bogor terdeteksi beberapa kali menelepon ke ponsel Agus Dwikarna. Telepon juga kerap datang dari wartel yang tempataya sama dengan nomor telepon yang masuk ke ponsel Parlindungan.

5. Chechnya
Nomor ponsel Umar al-Faruq juga tertera di ponsel Ibn al-Khattab, seorang komandan tentara Chechnya yang ditangkap Rusia.

6. Guantanamo, Kuba
Nomor telepon Umar al-Faruq juga tertera di ponsel seorang anggota taliban yang disel di Penjara X Ray, Guantanamo, Kuba.

Sumber: Badan Intelejen Nasional(Majalah TEMPO Edisi 25 November – 1 Desember 2002, hal. 69 - 87)

Muchyar Yara: “Haris Teman Lama Hendro”
TAK cuma urusan menangkal teror yang membuat Badan Intelljen Negara (BIN) super sibuk belakangan ini. Para petinggi Pejaten, markas besar lembaga mata-mata itu, kini juga harus bekerja ekstra keras menangkis berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Meski belum satu pun yang didukung bukti konkret, oleh sebagian kalangan Kepala BIN Hendropriyono gencar dituding telah ikut "bermain" dalam gelombang penangkapan sejumlah tersangka teroris belakangan ini, atas pesanan intelljen asing, khususnya Amerika Serikat.

Suara sumbang itu mulai keras terdengar saat penangkapan Tamsil Linrung dan Agus Dwiksma di Filipina beberapa waktu lalu. Diyakini banyak kalangan, BIN-lah sejatinya yang berada di balik operasi menggaruk Tamsil dan Agus, dua tokoh Komite Penegak Syariat Islam dan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) yang keras dicurigai telah ikut mengobarkan perang sipil di Poso. Sebagaimana dikutip kantor berita Antara, adalah Hendro sendiri yang pada pertengahan Desember tahun lain menyatakan sebuah indikasi ke arah itu: "Ada orang Al-Qaidah yang ditangkap di Spanyol. Pemerintah Spanyol yang memberi tahu Indonesia soal Al-Qaidah berlatih di Poso."

Syak wasangka ke arah tokoh yang kini berada di pucuk lembaga intelijen ini bukan tanpa latar sejarah. Berbagai literatur, antara lain studi International Crisis Group, telah menunjukkan betapa Ali Moertopo, Ketua Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) di awal rezim Soeharto, telah giat memata-matai dan "memainkan" kelompok Islam militan untuk kepentingan politik Orde Baru. "Mereka (kelompok Islam garis keras) semacam kartu yang bisa dipakai oleh orang yang berambisi berbuat sesuatu," kata Indonesianis Daniel Lev.

Dan sebagaimana halnya Ali, Hendro juga merupakan sosok yang punya pergaulan amat luas di kalangan ini. Persinggungan Hendro, pensiunan letnan jenderal berusia 57 tahun, dengan kelompok Islam radikal berawal saat ia menjabat Komandan Komando Resor Militer (Korem) 043/Garuda Hitam, Lampung. Ketika itu, 7 Februari. 1989, pasukannya menyerbu Desa Talangsari, yang dicurigai merupakan markas Kumpulan Warsidi, salah satu kelompok Islam militan, dan menewaskan sedikitnya 246 orang.

Dari situlah ia mengembangkan sayap. Dimulai pada awal 1990-an saat ia duduk di kursi Direktur A (bidang dalam negeri) Badan Intelijen Strategis --lembaga mata-mata militer-- Hendro aktif melakukan pendekatan dengan para tokoh eks Talangsari. Dan penggalangan itu telah menunjukkan hasil. Di kalangan Islam militan lalu dikenal sejumlah orang yang kerap disebut-sebut sebagai "binaan Hendro".

Kecurigaan ke arah itu kini mumlbul kembali seiring munculnya nama Abdul Haris dalam drama penangkapan Al-Faruq, warga Kuwait yang diyakini CIA sebagai salah satu pentolan Al-Qaidah, yang ditangkap di Bogor oleh satuan gabungan intelijen Indonesia sebelum kemudian dideportasi ke tahanan Amerika di Afganistan. Penelusuran mingguan ini menduga, Haris tak lain adalah seorang agen BIN yang telah "ditanamkan" untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan Islam berhaluan keras, termasuk Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir.

Untuk mengetahui apakah penyusupan ini merupakan sebuah kisah sukses operasi intelijen dalam menangkal terorisme ataukah tak lebih dari sekadar sebuah permainan spionase demi kepentingan yang lain, TEMPO mewawancarai Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat. Berikut petikannya.

Apa peran BIN dalam penangkapan Umar al-Faruq?

Informasi memang dari kami. Tapi yang melakukan penangkapan adalah pihak imigrasi, lalu dideportasi. BIN hanya menyertai.

Bersama Al-Faruq, ditangkap juga Abdul Haris, seorang aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendro sebatas teman. Tapi, tidakbenar Haris ikut ditangkap bersama Al-Faruq.

Jadi, Haris adalah teman yang kemudian dibina menjadi agen untuk disusupkan ke organisasi Islam?

Enggaklah. Tapi, seandainya dia orang yang bekerja untuk BIN, lalu kenapa? Yang dimata-matai kan orang asing (Al-Faruq), tukang bikin kekacauan di Poso, Ambon.

Haris juga berada di lingkungan Ba'asyir, yang disebut-sebut sebagai tokoh Jamaah Islamiyah dan dikaitkan dengan terorisme internasional.

Terus kenapa? Apakah tidak boleh BIN mengamati Ba'asyir? Benarkah langkah itu diambil atas pesanan dari CIA?

Ya, tidak benar. Soal Al-Faruq, kita memang mendapat informasi dari intelijen Filipina dan Singapura bahwa Faruq itu teroris. Tapi waktu itu tidak bisa kita buktikan. Dari CIA juga masuk informasi seperti itu, tapi bukan berarti ada order. Yang terbukti ketika ditangkap hanya pelanggaran imigrasi. Maka, sanksinya hanya dideportasi. Kalau saja waktu itu ada bukti kuat (terlibat terorisme), pasti langsung kami serahkan ke polisi. Yang ada di tangan saat itu cuma kontak telepon antara Agus Dwikarna dan Al-Faruq. Lalu, apa salahnya?

Bukankah ada bukti rekaman video Faruq seperti yang pernah dipertontonkan Hendro ke Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat?

Bukti itu baru didapat September lalu, setetah Faruq dideportasi.

Kembali ke Haris. Benarkah ia direkrut langsung oleb Hendro karena pergaulannya yang luas di kalangan Islam militan?

Yang saya tahu, mereka berkawan sejak dulu. Tapi, untuk urusan pekerjaan kantor, setahu saya tidak pernah ada Abdul Haris. Begitu juga sewaktu Pak Hendro masih di Badan Intelijen Strategis. Kalau yang akan Anda katakan adalah bahwa informan tak harus seorang anggota resmi BIN, itu betul.

Jadi, dia informan BIN dalam penangkapan Faruq?

Tidak. Dia tak tahu-menahu soal penangkapan Faruq. Yang dilakukannya hanya menjual tiket pesawat ke Malaysia untuk Faruq.

Haris teman lama Hendro, tapi malah menjual tiket pesawat untuk Faruq. Cuma kebetulan?

Ini bukan pekerjaan Pak Hendro. Dia tidak tahu apa-apa soal ini.

Jadi, Haris sama sekali tidak terkait dengan penangkapan Faruq?

Dalam konteks penangkapan Faruq, baik informasi awal maupun penangkapannya, tidak ada peran Haris. Menurut Pak Hendro, dia mengetahui Haris pernah mengurus tiket Faruq baru setelah Faruq dideportasi.

Lalu, siapa yang ditangkap bersama Faruq?

Setahu saya, yang ditangkap bareng Faruq itu pemuda masjid di sana yang kebetulan sedang berjalan bersama Faruq. Jadi, bukan Haris yang teman Pak Hendro itu.

Namanya juga Abdul Haris?

Enggak tahu juga tuh. Mungkin saja namanya sama. Kalau Haris yang Anda maksud adalah pemuda masjid yang ditangkap bersama Faruq, berarti dia sudah dilepaskan. Tapi, jika Haris yang dimaksud adalah orang yang mengurus paspor dan menjual tiket ke Faruq, dia tidak ikut ditangkap.

Benarkah Haris pernah mendapat proyek pemasangan karpet di kantor BIN?

Saya tidak tahu persis. Saya kira kok tidak ada proyek pemasangan karpet di BIN akhir-akhir ini. Mungkin sudah lama kali ya.

Benarkah Haris aktif di MMI?

Yang saya tahu, dia memang aktivis berbagai organisasi dan gerakan Islam.

Kabarnya, dia juga pernah mendapat beasiswa ke Riyadh dari Bakin pada sekitar tahun 1990-an?

Tidaklah.

Menurut sumber kami di kepolisian, Haris masuk dalam daftar yang dikirim BIN ke polisi supaya segera ditangkap. Benar?

Tidak mungkin. Kalaupun ya, pasti tidak termasuk Haris itu. Seratus persen tidak mungkin ada surat seperti itu dari BIN ke kepolisian. Ada sebabnya, tapi saya tak bisa menjelaskannya.

WTC : Zionis 'Bush' menyeret dunia menuju perang terbesar

Apa yang diungkap oleh Prof, Steven E. Jones, dalam investagasinya “Why Indeed did the WTC Buildings Collapse?,” The Hidden History of 9-11 semakin menambah urutan "evidence" atas kebohongan & konspirasi "Bush Zionist Laknatullah" dalam mencapai tujuannya memerangi Islam berkedok "Memerangi Terorisme". :swf

Who is Bush anyway ? mungkin sebagian saja khususnya umat Islam yang tahu "bush adalah seorang Zionist sejati". Tragedi WTC telah dijadikannya sebagai alasan menyerang Osama bin Laden yang berujung Pembumi hangusan negeri Islam Afghanistan, lalu berlanjut menyerang Saddam Husein yang berujung pembumi hangusan negeri Irak - negeri kelahiran para nabi. Sebentar lagi mungkin akan menyusul Iran, atau Jordania dan negeri negeri Islam lainnya dikawasan timur tengah disekitar Israel.

Perburuan teroris itu sekarang sudah mencapai Indonesia negeri kelahiran para wali, dan hampir kita semua lupa akan kejahatan pokok Bush dalam tragedi 9/11.


Ada buku baru berjudul Stranger Than Fiction: Independent Investigation of 9-11 and The War on Terrorism karya Dr. Albert D. Pastore, Ph.D. yang diterjemahkan oleh Z.A. Maulani, mantan Kepala Badan Intelijen tertinggi di Indonesia (BAKIN) era Habibie, dengan judul Fitnah Itu Akhirnya Terungkap: Investigasi Peristiwa 11-9 dan Perang Amerika Membasmi Terorisme. Saya mendapat hadiah buku tersebut langsung dari Pak Maulani dan langsung saya baca. Begitu membuka halaman pertama, rasanya ingin segera mengetahui halaman berikutnya. Jika semua informasi dalam buku tersebut benar, maka sungguh sangat fantastis! Hemat saya, akan merugilah orang-orang yang tidak membacanya, karena mereka tanpa sadar bisa menjadi korban makar atau pengkhianatan suatu kaum yang bernama Zionis.

Aneh memang, ternyata dunia ini tidak akan pernah sepi dari perang dan perang. Sebuah wilayah yang damai sering terjadi justru setelah perang. Kemudian perdamaian itu kembali terusik oleh kerakusan manusia, maka terpeciklah kembali peperangan itu dan seterusnya hingga memutih tulang bumi, lalu kiamat. Siapakah dalang dari semua konflik di muka bumi ini, katakanlah peperangan multinasional yang pernah terjadi sejak Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945)? Albert memaparkan data-data valid tentang loby Zionis yang dipimpin Bernard Baruch, Henry Morgenthau, dan Harold Ickes yang berhasil menekan presiden AS Franklin D. Roosevelt melakukan embargo pasokan minyak Jepang dengan harapan memaksa Jepang untuk menyerang Pearl Harbour (Des, 1941). Bukti-bukti yang ada dari dokumen-dokumen pemerintah dengan jelas memperlihatkan bahwa presiden FDR jauh-jauh hari sebenarnya telah mengetahui akan adanya serangan Jepang itu dan membiarkannya terjadi agar ia dapat menyeret AS ke dalam PD-II.

Sebelumnya, dalam PD-I, ada gerakan Zionis untuk mencaplok Palestina dari kekuasaan Daulah Utsmaniyah, yang kemudian berhasil diruntuhkan oleh Zionis Mustafa Kemal Pasha pada 13 Maret 1924. Namun upaya kaum Zionis itu berhasil dipatahkan oleh kekuatan Tentara Islam Khalifah Utsmaniyah. Maka loby Zionis memanfaatkan peperangan yang saat itu terjadi antara kubu Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki melawan tiga kekuatan Eropa lainnya, yaitu Inggris, Perancis, dan Rusia. Situasi ketika itu nampaknya kubu Turki akan menang, maka loby Zionis pimpinan Chaim Weizmann, yang ia kelak menjadi presiden pertama negara Israel, akan menyeret AS ke dalam peperangan tersebut dengan mendukung Inggris. Jika upaya itu sukses, maka Inggris akan memberi imbalan Palestina untuk mereka. Maka para makelar perang kaum Zionis seperti Bernard Baruch, Louis Brandeis, Paul Warburg, Jacob Schiff berhasil menekan presiden AS Woodrow Wilson untuk menyeret para “patriot” AS berperang bersama Inggris melalui insiden tenggelamnya kapal penumpang Lusitania (1916).

Pertanyaannya sekarang adalah sudah cukupkah dunia berperang? Lyndon Larouche, seorang tokoh ekonom dan politik terkenal yang memiliki hubungan luas dengan jaringan intelijen dunia mengeluarkan prediksi pada bulan Januari 2001, sebagai berikut: “Ada indikasi suatu perang besar dengan implikasi yang luas di Timur Tengah akan terjadi. Perang itu hanya akan terjadi bilamana pemerintah Israel bersama dengan kelompok Anglo-Amerika tertentu menghendakinya terjadi. Sekiranya mereka menghendakinya, serangkaian insiden untuk “membenarkan” kejadian itu dapat diatur...” Kini Lyndon menjadi tokoh yang dipuja-puja karena prediksinya tepat menyusul tragedi WTC 11-9.

Seorang penulis Yahudi yang anti-Zionisme, Jack Bernstein, mengatakan: “Karena sistem mata-uang di Amerika yang berlaku sekarang tidak didukung oleh emas, perak atau sesuatu yang berharga, uang dolar kertas dan receh yang terbuat dari logam timah akan menjadi tidak ada harganya. Dalam kekacauan moneter itu dan dalam usaha mendapatkan pangan dan kebutuhan sehari-hari, rakyat Amerika terpaksa akan menerima ‘Konstitusi Negara Baru’ yang telah mereka (kaum Zionis) persiapkan. Situasi ini akan menempatkan rakyat Amerika di bawah diktum ‘satu pemerintahan dunia’ (the New World Order) yang dikuasai oleh para bankir internasional yang berkiblat pada Zionisme dan kaum Yahudi Zionis (Bolshewik). Persisnya, arah peperangan Timur Tengah akan ditentukan oleh segitiga New York–Moskow–Tel Aviv, dan hanya Tuhan yang tahu...”.

Mari kita lihat keganjilan yang terjadi pada insiden WTC 11-9 yang telah berhasil menyihir akal sehat dunia untuk memusuhi umat Islam dan memfitnah mereka sebagai teroris. Hingga detik ini investigasi terhadap insiden WTC tidak pernah berhasil membuktikan bahwa pelakunya adalah Usamah bin Laden. Namun, negara Islam Afghanistan telah rata dengan tanah! Bush-Blair pun sampai detik ini tidak pernah berhasil menemukan apa yang disebut bom pembunuh massal (Weapon Mass Demolition) yang dimiliki Saddam Hussein. Tetapi, istana Baghdad terlanjur runtuh dan jutaan rakyat Irak terbunuh oleh mesin perang AS dan sekutunya! Apakah kedua peristiwa ini belum menyadarkan tuan-tuan yang mengaku intelektual, cendekiawan, birokrat, dan para jenderal atas kebohongan AS dan sekutunya?

Baiklah kita tengok data ini. Wakil Presiden New Mexico Tech, Van Romero (Albuquerque Journal, 11-9-01) berkata: “Sungguh sangat sulit ada sesuatu di dalam pesawat yang mampu memicu kejadian seperti itu. Yang lebih mungkin, sejumlah bahan peledak diletakkan di beberapa titik strategis...”. Louis Cacchioli, petugas pemadam kebakaran dari satuan 47 Harlem, New York mengatakan: “Saya sedang membawa alat pemadam api melalui elevator menuju lantai 24 untuk mengambil posisi mengungsikan para karyawan. Beberapa saat sebelum mencapai lantai 24 sebuah bom meledak. Menurut pendapat kami, ada bom yang dipasang di dalam gedung itu.” (People.com, 12-9-01). Segala kontroversi antara skenario ‘baja meleleh’ dengan detonasi bom sebenarnya dengan mudah diselesaikan. Namun, hal itu tidak akan pernah terjadi, karena belandar-belandar dan pilar-pilar baja itu dengan cepat telah didaur-ulang oleh Walikota New York, Rudy Giulani, yang mendapat ‘Man of the Year 2001’ dari majalah Time.

Albert berhasil mengungkapkan kebohongan yang memfitnah 19 pembajak ‘Arab’ penyerang WTC, lantaran 7 di antaranya ternyata masih segar bugar. Identitas ke-19 orang tersebut ternyata hasil curian. Bahkan surat anthrax, paspor palsu, kitab suci Al-Qur’an, dan buku petunjuk latihan penerbangan, semuanya ditinggalkan di mobil agar ditemukan oleh FBI, sehingga tuduhan mereka mendapat pembenaran. Inilah operasi false-flag yang rutin dilakukan kaum Zionis untuk mengelabui dunia.Yang pasti di dalam setiap pesawat penyerang tersebut terdapat seorang Zionis yang mati, sementara korban WTC tidak seorang pun warga Israel yang mati. Dari peristiwa 11-9 ini kaum Zionislah yang meneguk keuntungan, dan karena peristiwa itu bangsa-bangsa Arab dan kaum muslimin telah menjadi korban fitnah mereka. Karena itu, serangan 11-9, surat anthrax, bom Bali, pemboman terhadap kedutaan AS di Afrika, dan berbagai ancaman teror yang berhasil digagalkan, sebenarnya direncanakan, dikoordinasikan, didanai, dilaksanakan, dan ditutup-tutupi oleh kekuatan internasional Zionisme. Waspadalah terhadap pernyataan Ra’anan Gissin, penasihat senior Ariel Sharon: “Serangan teroris pada 11-9 dan ketegangan luar biasa di Timur Tengah menunjuk kepada hanya satu hal – Perang Dunia III. Kami sedang berada dalam situasi perang selama 18 bulan terakhir ini, yang merupakan awal dari Perang Dunia ke-3 itu. Suka tidak suka, dunia dipastikan akan berperang. Soal itu, saya yakin benar.” (Arizona Daily Star, 27/4/02). Sudah siapkah kita berperang?

Fauzan Al-Anshari
Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) HP. 0811-100138.