Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2012

Selamat datang di rumah semut

Dalam perjalanannya ke sekolah setiap hari, Umar berjalan melewati halaman rumah di seberang jalan dan menunggu di sana untuk beberapa saat. Temannya yang sangat baik tinggal di dalam taman ini. Tak seorangpun tahu siapakah teman ini, tetapi Umar sangat menyayanginya. Umar tidak pernah lupa untuk mengunjungi temannya, dan sangat senang bersahabat dengannya. Lagi pula, temannya ini lebih pandai dari siapapun juga. Meskipun tubuhnya sangat kecil, teman Umar ini mampu melakukan berbagai pekerjaan penting. Ia juga sangat rajin bekerja. Ia melakukan seluruh pekerjaannya dengan sangat baik dan tepat waktu, seolah-olah ia adalah seorang prajurit dalam angkatan bersenjata. Kendatipun ia tidak bersekolah sebagaimana Umar, ia mampu melakukan berbagai macam kewajiban-kewajiban yang harus ia lakukan dalam hidupnya.
Baca selengkapnya

16 September 2009

Penentuan 1 Ramadhan Dan 1 Syawal

1. Seluruh ulama sepanjang zaman sepakat bahwa penentuan hilal (bulan sabit) Ramadhan dan hilal Syawwal ditentukan dengan rukyatul hilal. Sedangkan metode hisab dilakukan manakala rukyat itu tidak berhasil dilakukan karena adanya awan atau sebab lain sehingga hilal tidak terlihat.

Dalil tentang rukyatul hilal adalah dalil yang shahih dan tidak ada dalil lainnya yang menafikannya. Adapun metode hisab justru berdaraskan dalil yang sama dengan syarat bahwa hilal itu tidak terlihat.

Di sisi lain, para ulama mengatakan bahwa metode hisab itu bisa dijadikan acuan umum untuk menetukan kapankah rukyatul hilal akan dilakukan. Tetapi tidak bisa dijadikan penentu dari bergantinya bulan. Penentuannya tetap harus dengan rukyat juga.

2. Pendapat yang mengatakan bahwa bila hilal terlihat di satu titik di muka bumi lalu seluruh dunia harus mengikutinya bukanlah milik harakah tertentu. Justru pendapat itu milik umat Islam, dalam hal ini milik salah satu mazhab fiqih dalam Islam. Pendapat ini sejak masa lalu sudah ada dan berdampingan dengan mazhab lainnya yang tetap memastikan bahwa tiap wilayah tertentu di muka bumi punya waktu tersendiri yang mungkin saja berbeda dengan wilayah lainnya.

Pendapat pertama adalah pendapat jumhur ulama. Mereka (jumhur)
menetapkan bahwa bila ada satu orang saja yang melihat bulan, maka semua wilayah
negeri Islam di dunia ini wajib mengikutinya. Hal ini berdasarkan prinsip
wihdatul matholi?, yaitu bahwa mathla? (tempat terbitnya bulan) itu merupakan satu kesatuan di seluruh dunia. Jadi bila ada satu tempat yang melihat bulan,
maka seluruh dunia wajib mengikutinya. Pendapat ini didukung oleh Imam Abu
Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat Kedua adalah pendapat Imam Syafi?i ra. Beliau berpendapat
bahwa bila ada seorang melihat bulan, maka hukumnya hanya mengikat pada negeri
yang dekat saja, sedangkan negeri yang jauh memiliki hukum sendiri. Ini
didasarkan pada prinsip ihktilaful matholi? atau beragamnya tempat terbitnya
bulan.

Ukuran jauh dekatnya adalah 133,057 km. Atau tepatnya secara literatur klasik adalah 24 farsakh. 1 farsakh adalah 3 mil, atau bila dalam hitungan meter, 1 farsakh adalah 5.544 meter. Jadi 24 farsakh sama dengan 5.544 x 24 = 133,057 km.

Dengan demikian, hukumnya hanya mengikat pada wilayah sekitar jarak itu. Sedangkan di luar jarak tersebut, tidak terikat hukum ruk?yatul hilal. Dasar pendapat ini adalah hadits Kuraib dan hadits Umar, juga qiyas perbedaan waktu shalat pada tiap wilayah dan juga pendekatan logika.

Untuk sekedar perbandingan, bahwa jarak ini berbeda dengan jarak bolehnya qashar shalat yang 16 farsakh itu. Jarak bolehnya qashar shaalt dalam ukuran meter sama dengan 89 km. (lihat Dr. Wahbah Az-Zhaili dalam Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu jilid 1 halaman 142).

swaramuslim.net

8 September 2009

Meluruskan istilah : Besaran

Rumusan berikut ini dinilai lebih mendekati kebenaran. Besaran : “sifat melekat pada sebuah obyek atau benda (konkrit atau abstrak), yaitu sifat yang terdapat dalam, atau yang tak dapat dipisahkan dari, obyek atau benda tersebut sehingga dapat difahami sebagai salah satu ciri, atribut atau jatidiri obyek atau benda tersebut".

Atas sebuah obyek seorang pengamat dapat mencatat sejumlah besaran. Misalnya, jika obyek itu adalah seorang mahasiswa, beberapa dari besaran itu adalah antara lain (1) nama mahasiswa tersebut, (2) tempat lahir, (3) tanggal lahir, (4) berasal dari SMU mana, (5) dengan NEM berapa, (6) terdaftar di program studi apa, (7) sekarang sudah berada di semester keberapa, (8) berapa sks telah dikumpulkan, (9) index prestasi kumulatif, (10) alamat tempat tinggal, -- dan sebagainya.

Besaran yang melekat pada sebuah obyek dapat dikatagorikan dalam dua macam, yaitu (1) besaran numeris, dan (2) besaran non-numeris. Umur, index prestasi kumulatif, terdaftar di semester ke berapa, merupakan beberapa contoh dari besaran numeris. Besaran disebut numeris jika atas besaran itu pengamat (dengan satu atau lain cara, biasanya dengan pengukuran) dapat memberikan sebuah bilangan yang sesuai yang dimiliki oleh obyek itu. Dalam bahasa sehari-hari dikatakan bahwa atas besaran tersebut diberikan nilai yang menerangkan keadan besaran itu pada obyek yang dibicarakan. Untuk komplitnya informasi ditambahkan satuan, yaitu standar atau dasar yang digunakan untuk memberi nilai tersebut. Dengan cara itu keragu-raguan dapat ditekan sekecil-kecilnya, lebih-lebih jika digunakan satuan standar. Maka atas umur seorang mahasiswa diberikan nilai 20 tahun, dan atas umur seekor ayam diberikan nilai (misalnya) 81.7 hari. Itu pasti berbeda dari umur 20.013 tahun yang ada pada seorang mahasiswa lain, dan umur 81.6 hari atas seekor ayam yang lain. Bahkan perbedaan antara 20 tahun dan 20.013 tahun bersifat pasti, yaitu 0.013 tahun.

Atas sebuah besaran non-numeris, per definisi, seorang pengamat tidak dapat memberikan sebuah bilangan numeris sebagai nilai atas besaran tersebut. Yang dapat diberikan atas besaran non-numeris adalah sebuah penilaian, yang dapat bersifat subyektif. Contoh khas adalah besaran warna (bunga). Atas besaran ini seorang hanya dapat memberi label sebuah kata sifat yang sepantasnya menggambarkan keadaan dari besaran tersebut, misalnya "hijau". Penilaian "hijau" disebut subyektif karena pengamat lain barangkalai memberi label "hijau agak kemerah-merahan". Apa beda "hijau" dengan "hijau agak kemerah-merahan" , tidak dengan mudah dapat diterangkan.

Contoh lain adalah besaran index prestasi. Label yang dapat diberikan kepadanya adalah "A", "B", "C", dan "D", berturut-turut untuk sifat "amat baik", "baik", "cukup" dan "jelek". Bahwa untuk index prestasi ada label "E" dan "F", ada pertimbangannya.

Pada kesempatan ini patut dicatat bahwa pemberian nilai (misalnya) 2.74 atas besaran index prestasi kumulatif adalah didasarkan kepada asumsi bahwa "A" setara dengan 4, "B" dengan 3, "C" dengan 2 dan "D" dengan 1. Asumsi itu dilengkapi dengan asumsi lain bahwa "E" setara dengan 0. Landasan pemikiran mengapa demikian tidak disinggung disini. Namun patut ditanyakan satuan apakah yang dipakai untuk index prestasi itu?

Matematika : sarana pemodelan bagi para teknisi

Dalam naskah ini yang dimaksudkan dengan para teknisi adalah mereka yang hidup dengan melakukan kegiatan ada dalam bidang ilmu-ilmu teknik, yaitu mereka perhatiannya adalah kepada upaya penyelesaian atas persoalan-persoalan nyata dalam masyarakat. Persoalan itu dapat berupa perencanaan bangunan gedung, atau pengadaan prasarana telekomunikasi yang menjangkau sejumlah penghuni dalam sebuah kawasan. Salah satu persoalan nyata dewasa ini adalah nilai rupiah. Langkah-langkah tepat apakah yang harus dilakukan agar ekonomi nasional tidak terperosok dalam krisis berkepanjangan? Tentulah ini persoalan bagi para teknisi di bidang ekonomi. Persoalan skala besar aktual lain dewasa ini adalah terbentuknya himpunan asap yang merisaukan di hampir sebagian besar kawasan hutan Sumatera dan Kalimantan, yang telah menimbulkan aneka masalah nyata di bidang kesehatan, sosial, ekonomi, hukum, politik dalam negeri dan hubungan internasional.

Bagi teknisi di bidang tertentu (misal bidang penegakan hukum), matematika boleh jadi tidak jelas manfaatnya dalam upaya penyelesaian persoalan skala besar tersebut. Tetapi bagi teknisi di bidang lain (misal pengendalian menuju pelestarian kualitas lingkungan) matematika pasti ada manfaatnya. Dalam hal terakhir ini, berlakulah diktum atau nasehat, bahwa “mathematics is a substitute to thinking”. Matematika berperan sebagai pisau untuk membuat analisis yang tajam menuju kepada pemecahan persoalan yang diinginkan. Dalam konteks itu, seperti diungkapkan oleh Dr Adhi Susanto, matematika mengisi aspek analitika bidang ilmu-ilmu teknik.

Dihadapkan kepada persoalan nyata dalam masyarakat, apakah yang dapat dikerjakan oleh para teknisi? Kiranya dapat dibayangkan bahwa para teknisi itu akan merumuskan model bagi persoalan yang akan dipecahkan. Yang disebut model itu sesungguhnya juga berupa pernyataan tentang persoalan yang dihadapi. Hal itu dikerjakan, antara lain dengan mencermati lingkup persoalannya, membuat kategori berdasarkan bidang kajian dan ilmu, melakukan pemilahan atas variabel serta parameter mana yang primer dan mana yang sifatnya sekunder, serta menetapkan suatu model, yang dinilai memiliki cukup sederhana untuk analisis selanjutnya, tetapi sekaligus cukup realistis untuk menggambarkan keadaan dalam dunia nyata. “Great engineering is simple engineering”. Dalam seluruh proses pemodelan ini matematika (logika) membantu meratakan jalan bagi perumusan model yang diinginkan.

Ada tiga butir harus diperhatikan:
1. hukum-hukum alam yang berlaku;
2. informasi serta pengalaman di lapangan;
3. sasaran akhir yang ingin dicapai.

Mengingat hukum-hukum alam umumnya diungkapkan dalam pernyataan yang bersifat pasti serta tak mengandung keragu-raguan akan sebab dan akibatnya, maka model yang diperoleh daripadanya juga bersifat deterministik. Model ini sering berupa persamaan matematika yang dijabarkan dari azas-azas kekekalan energi, massa dan momentum. Model ini bersifat deterministik. Sebaliknya, ketidak-lengkapan informasi mengenai aspek-aspek tertentu dari realitas, atau tidak tersedianya rumusan yang memadai untuk menyatakan hukum alam yang berlaku bagi realitas tersebut sering mendorong pembentukan model yang bersifat non-deterministik. Model jenis ini sering dikembangkan dengan menggunakan konsep peluang atau probabilitas, namun tidak tertutup kemungkinan model itu semata-mata bersifat heuristik atau ad-hoc.

Model juga dapat diklasifikasikan sebagai berbasis persamaan, jika persamaan itu dijabarkan dari hukum-hukum alam, atau diperoleh dalam bentuk persamaan regresi yang diangkat dari pengamatan serta pengukuran intensif di lapangan. Model ini bersifat obyektif. Sebaliknya model diklasifikasikan sebagai berbasis informasi, jika dikembangkan melalui proses penalaran yang adaptif, menggunakan konsep jaringan syaraf tiruan serta memanfaatkan paradigma logika fuzi. Model berbasis informasi sering mengandung unsur-unsur yang sifatnya subyektif, sekurang-kurangnya sampai taraf tertentu, karena tergantung kepada kematangan wawasan serta pemikiran teknisi pengembang model. Model jenis ini sekarang menjadi makin populer, antara lain karena sifatnya praktis, “the end justifies the means”. Model berbasis persamaan untuk persoalan yang sama dapat tidak memiliki solusi atau memberi solusi yang tidak ada diterima (misalnya, seharusnya memberi jawab yang positif, tetapi angkanya ternyata negatif).

Selanjutnya dikenal pula model yang berbasis operasional. Model jenis ini misalnya memanfaatkan paradigma antrian yang terdapat dalam aneka proses di alam dan dalam kegiatan sehari-hari. Model berbasis operasional secara langsung atau tidak langsung memasukkan waktu sebagai unsur penting dalam pengkajian atas persoalan yang dihadapi. Dalam pelaksanaannya sering digunakan paradigma input-output serta konsep fungsi pemindah (“transfer function”). Secara singkat, model operasional berusaha mensimulasikan proses yang diperkirakan dapat terjadi.

Dilawankan kepada model operasional, dikenal pula model perencanaan, yang memanfaatkan paradigma optimisasi dalam penggunaan sumberdaya. Sasaran utama penyelesaian yang memiliki ciri unik dipandang dari segi kajian atas biaya dan manfaat.

Fakta nyata:
1. Model hanya mencerminkan akumulasi pengalaman si pengembang model akan persoalan yang dihadapi dalam konteks situasi dalam dunia nyata. Dalam pengertian ini model hanya merupakan rumusan lain dari data serta informasi yang dimilikinya.
2. Persoalan itu sendiri sering bersifat terbuka, dengan cacah jawaban, solusi atau penyelesaian dapat lebih dari satu, sekalipun solusi unik (satu dan hanya satu solusi) diinginkan.
3. Model sering bersifat implisit, -- informasi tersembunyi dibalik relasi-relasi yang terdapat dalam model. Diungkapkan dalam kalimat lain, dalam model yang telah dikembangkan, dapat saja informasi yang diinginkan tidak ada didalamnya.
4. Oleh karena itu dalam memecahkan persoalan-persoalan nyata sering harus dilakukan proses iterasi, yaitu proses berulang dengan input sebuah siklus ditentukan oleh output siklus sebelumnya, sehingga pada akhirnya diperoleh model yang menjanjikan penyelesaian yang diinginkan.

Matematika : Apakah itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, matematika adalah “ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”. Kalimat ini bukan rumusan yang tepat, sekalipun dapat dikatakan memadai untuk dicantumkan dalam kamus. Ada cabang matematika yang tidak langsung berurusan dengan bilangan, misalnya geometri, topologi, teori graf serta logika.

Dalam naskah ini matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang pernyataan-pernyataan, serta syarat-syarat yang diperlukan agar sebuah pernyataan adalah benar. Dalam matematika diuji kebenaran sebuah pernyataan, diteliti makna atau implikasi dari setiap kata yang terdapat didalamnya, serta dicoba dikembangkan pernyataan-pernyataan lain yang berkaitan. Pernyataan itu dapat mengenai apa saja, yang para matematikawan memilih sebagai obyek-obyek yang pantas diteliti dan dicermati. Salah satu obyek yang menarik adalah, tentu saja, bilangan. Ternyata ada aneka ragam bilangan, baik yang asli, maupun yang tidak asli. Ternyata ada bilangan yang memiliki ciri istimewa, yang lalu disebut bilangan prima. Studi mengenai hal ini sangat penting tidak hanya dalam matematika, namun juga dalam teknik komputer.

Obyek menarik lain terdapat dalam geometri, misalnya titik, garis, bidang, serta bentuk yang dapat muncul daripadanya, seperti segitiga, lingkaran, elips, kubus, bola, kerucut, piramida, dan lain-lain. Sangatlah terkenal pernyataan Pythagoras, bahwa dalam segitiga siku-siku, luas bujur sangkar pada hipotenusa (sisi miring) sama dengan jumlah luas bujur sangkar kedua sisi lainnya.

Dalam studi tentang bentuk-bentuk dalam geometri, muncul secara alami konsep-konsep seperti panjang, luas, isi, berat dan titik berat. Daripadanya berkembang konsep tentang satuan, besaran dan fungsi.

Obyek menarik lain bagi para matematikawan adalah himpunan, serta hubungan antara berbagai himpunan. Studi mengenai hal ini telah menghasilkan aneka manfaat praktis, serta mengarahkan matematikawan kepada aneka persoalan sangat mendasar, bahkan sering bersifat abstrak, mengenai matematika serta pondasi yang diatasnya terdapat bangunan yang lalu disebut matematika. Apapun yang dipelajari dan dilakukan, semua kembali kepada usaha untuk membuat sekurang-kurangnya sebuah pernyataan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Pernyataan akan diterima sebagai pernyataan yang benar, jika kepadanya dapat diberikan (sekurang-kurangnya) sebuah bukti yang meyakinkan, yaitu argumentasi atau deretan kalimat yang rapi, runtut dan masuk akal, yang daripadanya tidak ada keragu-raguan lagi mengenai kebenaran dari teorema yang dibahas.

Pernyataan yang kebenarannya tidak pernah diragukan, namun tidak pernah diberikan buktinya, disebut aksioma. Pernyataan yang kebenarannya telah dijamin sekurang-kurangnya oleh sebuah bukti meyakinkan disebut teorema atau lemma. Beda antara teorema dan lemma tidak perlu dibahas disini. Pada bagian awal dari buku klasiknya yang berjudul “Grundlage der Geometrie”, David Hilbert menuliskan aksioma-aksioma tentang titik, garis dan bidang. Dari aksioma-aksioma itu ia berhasil membuktikan semua teorema penting dalam geometri. – Itulah contoh konkrit sebuah matematika.

Matematika biasanya diletakkan dalam kategori yang sama dengan logika, yang merupakan cabang dari filsafat. Filsafat itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan sebagai “pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakekat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya” -- scientia rerum per causas ultimas. Menurut Bertrand Russel, logika adalah masa kakak-kanak dari matematika.

Matematika juga biasanya diletakkan dalam kategori yang sama dengan fisika, yang masa kanak-kanaknya disebut kosmologi, yang merupakan cabang dari filsafat juga. Dalam fisika dipelajari obyek alam (benda), dan atas obyek itu dicoba dibuat pernyataan-pernyataan yang benar, yang sekarang biasa disebut hukum-hukum alam atau hukum-hukum fisika. (Dalam naskah ini kimia diperlakukan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari fisika).

Adakah beda nyata antara teorema (dalam matematika) dan hukum (dalam fisika)? Salah satu perbedaan adalah dalam pembuktian atas kebenarannya. Teorema dibuktikan melalui argumentasi, sedang hukum dalam fisika dibuktikan melalui eksperimen atau pengamatan.

Perbedaan lain nyata dalam sifat penelitian yang dilakukan atas teorema dan hukum. Hukum dikaji, dan dicoba dirumuskan kembali, dalam konteks gejala-gejala alam yang disadari, atau sekurang-kurangnya dicurigai, mengandung fakta baru, agar hukum dapat dirumuskan kembali menjadi bersifat mencakup fakta baru tersebut serta memiliki ciri universal, yaitu berlaku dimana saja dan kapan saja. Penelitian umumnya dikaji dalam pola pemikiran yang induktif.

Teorema pun dikaji dengan sasaran serupa. Tetapi teorema sering diungkapkan berdasarkan n buah asumsi: “jika n buah asumsi A1, A2, ... An ini benar, maka pernyataan P adalah benar”. Apakah cacah asumsi dapat dikurangi, sehingga dapat dirumuskan teorema tanpa asumsi (misalnya)? Jika teorema bertolak dari sebuah asumsi yang sangat ketat, dapatkah asumsi yang ketat itu diperlunak, tanpa mengubah materi dalam teorema? -- Penelitian umumnya bersifat kajian deduktif dan diarahkan kepada pembentukan sistem matematika yang utuh: logis, konsisten dan efisen (bermanfaat).

Hakikat Teori Evolusi Darwin: Perang Terhadap Agama

harun yahya
Di jaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama berpandangan bahwa "Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses evolusi," hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut. Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beriman akan tetapi salah dalam memahami teori evolusi. Di sini diuraikan sejumlah penjelasan ilmiah dan logis yang penting yang menunjukkan mengapa teori evolusi tidak sesuai dengan Islam dan fakta adanya penciptaan.
Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah.
Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka mengatakan: "Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain; apa salahnya menolak hal ini?" Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak pada pertanyaan apakah "makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan yang pokok adalah "apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?"
Teori evolusi, sebagaimana yang diketahui, mengklaim bahwa senyawa-senyawa kimia inorganik dengan sendirinya datang bersama-sama pada suatu tempat dan waktu secara kebetulan dan sebagai akibat dari fenomena alam yang terjadi secara acak. Mula-mula senyawa-senyawa ini membentuk molekul pembentuk kehidupan, seterusnya terjadi rentetan peristiwa yang pada akhirnya membentuk kehidupan. Oleh sebab itu, pada intinya anggapan ini menerima waktu, materi tak hidup dan unsur kebetulan sebagai kekuatan yang memiliki daya cipta. Orang biasa yang sempat membaca dan mengerti literatur teori evolusi, paham bahwa inilah yang menjadi dasar klaim kaum evolusionis. Tidak mengherankan jika Pierre Paul Grassé, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui evolusi sebagai teori yang tidak masuk akal. Dia mengatakan apa arti dari konsep "kebetulan" bagi para evolusionis:
…'[Konsep] kebetulan' seolah telah menjadi sumber keyakinan [yang sangat dipercayai] di bawah kedok ateisme. Konsep yang tidak diberi nama ini secara diam-diam telah disembah.
(Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, New York, Academic Press, 1977, p.107)
Akan tetapi pernyataan bahwa kehidupan adalah produk samping yang terjadi secara kebetulan dari senyawa yang terbentuk melalui proses yang melibatkan waktu, materi dan peristiwa kebetulan, adalah pernyataan yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk hidup. Kaum mukmin sudah sepatutnya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat dari kepercayaan yang salah dan menyesatkan ini; serta mengingatkan akan bahayanya.
Pernyataan tentang "adanya kebetulan" yang dikemukakan teori evolusi
dibantah oleh ilmu pengetahuan
Fakta lain yang patut mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah bahwa berbagai penemuan ilmiah ternyata malah sama sekali bertentangan dengan klaim-klaim kaum evolusionis yang mengatakan bahwa "kehidupan muncul sebagai akibat dari serentetan peristiwa kebetulan dan fenomena alamiah." Ini dikarenakan dalam kehidupan terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan yang dengan telak mematahkan konsep "kebetulan."
Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga.
Usaha para evolusionis untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dengan menggunakan konsep kebetulan telah dibantah oleh ilmu pengetahuan abad 20. Bahkan kini, di abad 21, mereka telah mengalami kekalahan telak. (Silahkan baca buku Blunders of Evolutionists, karya Harun Yahya, terbitan Vural Publishing). Jadi, alasan mengapa mereka tetap saja menolak adanya penciptaan oleh Allah kendatipun telah melihat fakta ini adalah adanya keyakinan buta terhadap atheisme.
Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi
Oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah "melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan." Di sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin. Logika keliru yang mengatakan bahwa "Makhluk hidup mungkin saja diciptakan melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain" sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup berlangsung.
Sungguh, jika Allah menghendaki, Dia bisa saja menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi yang berawal dari sebuah ketiadaan sebagaimana pernyataan di atas. Dan oleh karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, kita bisa mengatakan bahwa, "Allah menciptakan kehidupan melalui proses evolusi." Misalnya, jika terdapat bukti bahwa reptil berevolusi menjadi burung, maka dapat kita katakan,"Allah merubah reptil menjadi burung dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!". Sehingga pada akhirnya kedua makhluk hidup ini masing-masing memililiki tubuh yang dipenuhi oleh contoh-contoh rancangan yang sempurna yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep kebetulan. Perubahan rancangan ini dari satu bentuk ke bentuk yang lain - jika hal ini memang benar-benar terjadi - akan sudah barang tentu bukti lain yang menunjukkan penciptaan.
Akan tetapi, yang terjadi ternyata bukan yang demikian. Bukti-bukti ilmiah (terutama catatan fosil dan anatomi perbandingan) justru menunjukkan hal yang sebaliknya: tidak dijumpai satu pun bukti di bumi yang menunjukkan proses evolusi pernah terjadi. Catatan fosil dengan jelas menunjukkan bahwa spesies makhluk hidup yang berbeda tidak muncul di muka bumi dengan cara saling berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Tidak ada perubahan bentuk sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, spesies makhluk hidup yang berbeda satu sama lain muncul secara serentak dan tiba-tiba dalam bentuknya yang telah sempurna tanpa didahului oleh nenek moyang yang mirip dengan bentuk-bentuk mereka. Burung bukanlah hasil evolusi dari reptil, dan ikan tidak berevolusi menjadi hewan darat. Tiap-tiap filum makhluk hidup diciptakan masing-masing secara terpisah dengan ciri-cirinya yang khas. Bahkan para evolusionis yang paling terkemuka sekalipun telah terpaksa menerima kenyataan tersebut dan mengakui bahwa hal ini membuktikan adanya fakta penciptaan. Misalnya, seorang ahli palaentologi yang juga seorang evolusionis, Mark Czarnecki mengaku sebagaimana berikut:
Masalah utama yang menjadi kendala dalam pembuktian teori evolusi adalah catatan fosil; yakni sisa-sisa peninggalan spesies punah yang terawetkan dalam lapisan-lapisan geologis Bumi. Catatan [fosil] ini belum pernah menunjukkan bukti-bukti adanya bentuk-bentuk transisi antara yang diramalkan Darwin - sebaliknya spesies [makhluk hidup] muncul dan punah secara tiba-tiba, dan keanehan ini telah memperkuat argumentasi kreasionis [=mereka yang mendukung penciptaan] yang mengatakan bahwa tiap spesies diciptakan oleh Tuhan.
(Mark Czarnecki, "The Revival of the Creationist Crusade", MacLean's, 19 Januari 1981, hal. 56)
Khususnya selama lima puluh tahun terakhir, perkembangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti palaentologi, mikrobiologi, genetika dan anatomi perbandingan, dan berbagai penemuan menunjukkan bahwa teori evolusi tidak lah benar. Sebaliknya makhluk hidup muncul di muka bumi secara tiba-tiba dalam bentuknya yang telah beraneka ragam dan sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Allah menggunakan proses evolusi dalam penciptaan. Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup masing-masing secara khusus dan terpisah, dan pada saat yang sama, dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!" Dan ini adalah sebuah fakta yang nyata dan pasti.
Kesimpulan
Sungguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap sistem ideologi yang ditujukan untuk melawan Allah dan din-Nya. Selama 150 tahun, teori evolusi atau Darwinisme telah menjadi dalil serta landasan berpijak bagi semua ideologi anti agama yang telah menyebabkan tragedi bagi kemanusiaan seperti fasisme, komunisme dan imperialisme; serta melegitimasi berbagai tindak kedzaliman tak berperikemanusiaan oleh mereka yang mengadopsi berbagai filsafat ini. Oleh karenanya, tidak sepatutnya kenyataan dan tujuan yang sesungguhnya dari teori ini diabaikan begitu saja. Bagi setiap orang yang mengaku muslim, ia memiliki tanggung jawab utama dalam membuktikan kebohongan setiap ideologi anti agama yang menolak keberadaan Allah dengan perjuangan pemikiran dalam rangka menghancurkan kebatilan dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya.

Mematahkan Teori Evolusi Darwin

Mematahkan Teori Evolusi Darwin :
Dunia sedang Memperlihatkan Fakta kepada Kita

manusia bukan berevolusi dari monyet

Hasil penelitian baru-baru ini semakin mematahkan teori evolusi Darwin. Bukti kecerdasan monyet, dan peradaban tinggi pada masa prasejarah adalah bukti kelemahan teori yang menjadi dasar filosofi atheisme dan komunisme ini.

Delapan tahun lalu, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap monyet menyatakan, perilaku primata ini sangat misterius, hal yang dapat mematahkan teori evolusi. Cara mengatur koloni monyet sangat unik, mereka memiliki banyak cara “membuat hidup mereka agar lebih baik”, banyak sekali hal yang sama sekali tidak dipahami manusia. Misalnya reaksi terhadap perubahan alam, dibanding manusia monyet lebih cerdas; bahkan reaksi monyet terhadap gempa, banjir dan bencana alam lainnya lebih akurat dibanding peralatan ilmiah. Dengan demikian dapatkah dikatakan monyet lebih cerdas dari manusia? Adakah penurunan tingkat kecerdasan?

Jika peradaban manusia baru berusia 10 ribu tahun seperti dalam teori evolusi Darwin, maka dapat dikatakan monyet merupakan makhluk yang paling cerdas, karena memimpin dunia pada saat itu?

Jika ribuan makhluk di dunia berevolusi mengalami perubahan bentuk secara berangsur dari yang tingkat rendah ke tingkat tinggi. Lalu bagaimana binatang atau tumbuhan dalam klasifikasi biologi modern itu, mana yang sederhana, dan mana yang bertaraf tinggi? Bagaimana bentuk asal mereka? Kala itu ada berapa banyak monyet yang menjadi manusia, dan monyet yang bagaimana bisa menjadi manusia, demikian juga sebaliknya, monyet yang bagaimana tidak bisa menjadi manusia? Lalu bagaimana dengan asal manusia pada tempat-tempat yang tidak ada monyet di dunia itu?

Peneliti tersebut mengemukakan bahwa untuk mengumumkan hasil dari penelitian tersebut kepada publik tidaklah mudah. Dapat juga hal itu akan menjadi akhir dari penelitian itu sendiri. Ini dikarenakan ilmuwan-ilmuwan senior banyak yang karyanya mengacu pada teori Darwin tersebut. Dengan demikian, berarti mereka menyangkal “hasil” penelitian sepanjang hidup mereka sendiri dan mempersulit diri sendiri.

Setelah sekian lama teori ini bertahan dan diyakini oleh banyak ilmuwan dari berbagai ilmu dan menjadikan Darwin sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh di abad 20. Pada 10 Agustus 2005 merupakan hari yang tidak menguntungkan bagi Darwin. Karena pada hari itu, komite pendidikan negara bagian Kansas, AS menyetujui serangkaian standar pendidikan ilmu alam, salah satunya memasukkan teori kontradiksi evolusi dalam kurikulum di sekolah, dengan perbandingan 6:4. Dan setelah dipertimbangkan oleh sejumlah kalangan terkait, maka standar pendidikan itu akan diterapkan pada semester baru. Ini berarti akan semakin luas masyarakat yang akan mempelajari dan kemudian dapat membandingkan antara kedua teori tersebut.

Hanya Sebuah Hipotesis
Lebih dari 500 ilmuwan yang memiliki gelar doktor telah menandatangani sebuah pernyataan bersama mereka, yakni menyatakan sangsi atas teori evolusi Darwin. Di antara ilmuwan yang menandatangani pernyataan bersama tersebut, adalah merupakan anggota yang memiliki popularitas dari lembaga ilmu pengetahuan Rusia dan AS.

Pada 2001 yang lalu, untuk mempropagandakan rangkaian program evolusinya, stasiun televisi PBS menyatakan : “Sesungguhnya, tiap-tiap ilmuwan di dunia percaya bahwa teori evolusi itu benar.”

Tepat di saat itu untuk pertama kalinya lembaga Discovery Seatlle mengemukakan keraguannya terhadap pandangan PBS. Wakil Direktur dari Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Lembaga Discovery Seatlle yakni John Wester mengatakan, “Darwinisme tetap mengatakan bahwa tidak ada satu ilmuwan yang sungguh–sungguh meragukan teori evolusi, namun, di sini terdapat lebih dari 500 ilmuwan yang bersedia menyatakan secara resmi bahwa mereka ragu dengan teori evolusi tersebut.”

Sebenarnya Darwin tidak pernah memastikan teorinya. Menurut ilmuwan, sebenarnya teori evolusi hanya sebuah teori hipotesis, Darwin berharap kelak dapat menemukan bukti yang meyakinkan. Untuk membuktikan bahwa teori evolusinya itu benar, bukti yang ada tidak dapat bertahan hingga saat ini, lagi pula teori evolusi sangat jauh berbeda dengan kenyataan, bukti masih samar-samar, dan kesimpulanya juga tidak dapat diulang. Namun demikian masih ada sarjana yang belakangan meneruskannya dan menganggap teori itu sebagai suatu keyakinan yang ilmiah. Hipotesa yang baru ini dengan cepat menjadi satu keyakinan yang umum, dan mengulangi perkataan orang lain, sekarang dianggap sebagai satu kebenaran.

Beberapa hasil penelitian ilmiah baru-baru ini dapat menjadi bukti untuk mematahkan teori evolusi Darwin. Antara lain dengan hasil penelitian: masa munculnya binatang di dunia ini hingga sekarang tidak lebih dari 580 juta tahun. Hasil temuan arkeologi lain didapatkan kenyataan bahwa tambang uranium Oklo dibangun 2 miliar tahun silam, Republik Gabon yang terbelakang membuat sebuah reaktor nuklir! Dan pada saat itu menurut teori evolusi bahkan tidak ada yang namanya binatang, bukankah ini menampar mulut ilmuwan yang bersikeras dengan hipotesa teori evolusi? Menurut perhitungan teori evolusi Darwin bahwa munculnya peradaban manusia tidak lebih dari 10.000 tahun

Pada 1880 silam, di bawah kaki sebuah gunung di California ditemukan hasil galian arkeologi yang sebagian besar adalah peralatan batu yang sangat halus, dan dapat dipastikan bahwa ini adalah bekas peningalan pada 55 juta tahun yang lampau. Bukankah sepenuhnya telah menjebol susunan evolusi manusia dalam teori evolusi.

Ateisme memperkuat doktrin evolusi
Akar bencana yang mendominasi dunia adalah dari doktrin teori evolusi adalah ateisme. Sebab teisme dapat menjelaskan bahwa ayam dan telur ayam diciptakan secara bersamaan oleh Sang Pencipta, sedangkan pembela teori evolusi hingga sekarang masih berdebat sebenarnya ayam atau telur lebih dahulu. Sesungguhnya sekarang banyak ilmuwan yang benar-benar berkata jujur berpendapat bahwa teori evolusi adalah sebuah doktrin yang keterlaluan dan tidak dapat dibuktikan.

Dalam buku “Teori yang Memunculkan Krisis: Teori Evolusi” ahli genetika asal Selandia Baru Michael Denton secara singkat namun tegas mengatakan bahwa teori evolusi Darwin adalah dusta terbesar abad 20.

Banyak ilmuwan menganggap : teori evolusi bukan saja telah keliru menuntun segenap bidang biologi, bahkan keliru menuntun dalam bidang psikologi, logika dan filsafat dan banyak bidang lainnya, sehingga keliru dalam menuntun perkembangan budaya manusia. Teori evolusi membuat orang percaya bahwa manusia adalah keturunan binatang, sehingga membuat orang percaya bahwa sifat manusia berpangkal dari hewan, nafsu serakah manusia adalah pengungkapan alami manusia, memberi landasan teori hukum rimba dan akan binasa jika tidak berusaha untuk kepentingan diri sendiri. Beginilah rusaknya dunia ini.

Sejak China komunis membentuk pemerintahan, di mana agar dapat mempertahankan kekuasaan adikarya dan tidak membiarkan orang percaya adanya Tuhan, ia memutarbalikkan sejarah budaya Tionghoa, namun, karena orang-orang percaya adanya Tuhan, maka siapa yang mau mendengarnya?

Sesungguhnya, dalam sejarah budaya bangsa Tionghoa, riwayat dewa-dewa yang menyebarkan budaya hingga sekarang masih terus diceritakan turun temurun, Lu Ban yang membuat jembatan Zhao Zhou, dan Liu Bowen yang membangun 999,5 kamar di istana, serta riwayat penyebaran Yi Jing dan sebagainya, kisah yang tidak lapuk sepanjang masa ini berurat akar di kalangan rakyat. Juga ada legenda tentang Nuwa yang menciptakan manusia timur, dan Tuhan yang menciptakan manusia barat. Dari fresco kuno di China dan barang-barang maupun spesies ganjil yang semakin banyak ditemukan di dunia saat ini, semua ini membuktikan betapa jauh tertinggalnya ilmu pengetahuan modern dari budaya prasejarah, temuan-temuan ini terus mematahkan ateisme, dan tanpa kenal ampun membedah teori evolusi. Terus menerus memperlihatkan kepada manusia bahwa di tengah keremangan ada fakta yang menentukan alam semesta. Semakin banyak yang menyadari, bahwa pada hakekatnya manusia itu ciptaan Tuhan