Rumusan berikut ini dinilai lebih mendekati kebenaran. Besaran : “sifat melekat pada sebuah obyek atau benda (konkrit atau abstrak), yaitu sifat yang terdapat dalam, atau yang tak dapat dipisahkan dari, obyek atau benda tersebut sehingga dapat difahami sebagai salah satu ciri, atribut atau jatidiri obyek atau benda tersebut".
Atas sebuah obyek seorang pengamat dapat mencatat sejumlah besaran. Misalnya, jika obyek itu adalah seorang mahasiswa, beberapa dari besaran itu adalah antara lain (1) nama mahasiswa tersebut, (2) tempat lahir, (3) tanggal lahir, (4) berasal dari SMU mana, (5) dengan NEM berapa, (6) terdaftar di program studi apa, (7) sekarang sudah berada di semester keberapa, (8) berapa sks telah dikumpulkan, (9) index prestasi kumulatif, (10) alamat tempat tinggal, -- dan sebagainya.
Besaran yang melekat pada sebuah obyek dapat dikatagorikan dalam dua macam, yaitu (1) besaran numeris, dan (2) besaran non-numeris. Umur, index prestasi kumulatif, terdaftar di semester ke berapa, merupakan beberapa contoh dari besaran numeris. Besaran disebut numeris jika atas besaran itu pengamat (dengan satu atau lain cara, biasanya dengan pengukuran) dapat memberikan sebuah bilangan yang sesuai yang dimiliki oleh obyek itu. Dalam bahasa sehari-hari dikatakan bahwa atas besaran tersebut diberikan nilai yang menerangkan keadan besaran itu pada obyek yang dibicarakan. Untuk komplitnya informasi ditambahkan satuan, yaitu standar atau dasar yang digunakan untuk memberi nilai tersebut. Dengan cara itu keragu-raguan dapat ditekan sekecil-kecilnya, lebih-lebih jika digunakan satuan standar. Maka atas umur seorang mahasiswa diberikan nilai 20 tahun, dan atas umur seekor ayam diberikan nilai (misalnya) 81.7 hari. Itu pasti berbeda dari umur 20.013 tahun yang ada pada seorang mahasiswa lain, dan umur 81.6 hari atas seekor ayam yang lain. Bahkan perbedaan antara 20 tahun dan 20.013 tahun bersifat pasti, yaitu 0.013 tahun.
Atas sebuah besaran non-numeris, per definisi, seorang pengamat tidak dapat memberikan sebuah bilangan numeris sebagai nilai atas besaran tersebut. Yang dapat diberikan atas besaran non-numeris adalah sebuah penilaian, yang dapat bersifat subyektif. Contoh khas adalah besaran warna (bunga). Atas besaran ini seorang hanya dapat memberi label sebuah kata sifat yang sepantasnya menggambarkan keadaan dari besaran tersebut, misalnya "hijau". Penilaian "hijau" disebut subyektif karena pengamat lain barangkalai memberi label "hijau agak kemerah-merahan". Apa beda "hijau" dengan "hijau agak kemerah-merahan" , tidak dengan mudah dapat diterangkan.
Contoh lain adalah besaran index prestasi. Label yang dapat diberikan kepadanya adalah "A", "B", "C", dan "D", berturut-turut untuk sifat "amat baik", "baik", "cukup" dan "jelek". Bahwa untuk index prestasi ada label "E" dan "F", ada pertimbangannya.
Pada kesempatan ini patut dicatat bahwa pemberian nilai (misalnya) 2.74 atas besaran index prestasi kumulatif adalah didasarkan kepada asumsi bahwa "A" setara dengan 4, "B" dengan 3, "C" dengan 2 dan "D" dengan 1. Asumsi itu dilengkapi dengan asumsi lain bahwa "E" setara dengan 0. Landasan pemikiran mengapa demikian tidak disinggung disini. Namun patut ditanyakan satuan apakah yang dipakai untuk index prestasi itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar